Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 September 2011

Metamorfosis (Chapter 7)

pic. by : Johansen Halim
Perjalanan menggunakan bus mini pribadi yang dipelopori Oddie benar-benar sesuai bayangannya. Ramai, gila, kocak, dan menggembirakan. Bahkan, melebihi dari ekspektasi Oddie, Tamara yang cantiknya bukan kepalang ikutan meramaikan bus bermuatan sekitar 15 orang tersebut. Tamara duduk di barisan paling belakang dan berada di dekat jendela agar bisa menikmati pemandangan selama perjalanan.

Merasa ada topik dadakan, Septian melayangkan sebongkah ledekan ke Oddie dan Tamara.

“Bilang-bilang dong Od kalau lu ngajakain Tamara juga,” sindir Septian yang kemudian mendapat cubitan pipi dari Oddie.

“Ato jangan-jangan lu emang butuh suster nih buat jagain lu yang baru sembuh, oooo....soo sweeettt, maniss bangeettt...” ledek Luna yang diikuti sorakan Geng Cuwit-Cuwit.

Mendengar ledekan tersebut, sayembara memerahkan pipi diikuti oleh Oddie dan Tamara. Oddie tidak bisa membalas ledekan teman-temannya dan cuma bisa memonyong-monyongkan bibirnya, bahkan berusaha untuk menenangkan Tamara yang pipinya sudah memerah marun.

“Wah, ga usah didengerin Tam. Mereka ga biasa dengan kehidupan Barat kayak kita-kita gini, deket dikit udah disorakin, hehehe....Nih, minum dulu, tadi ngos-ngosan kan,” ujar Oddie menenangkan hati Tamara sambil memberikan sebotol air mineral. Sembari memberikan air mineral tersebut, Oddie duduk di samping Tamara. Basa-basi Oddie yang kepalang basi mulai meluncur dari bibir tipisnya.

“Kok tumben kamu telat? Ga biasanya. Ato kita emang jodoh kali ya biar bisa berangkat barengan? Hahahahaha....” canda Oddie dengan penuh rasa percaya diri. Mendengar gurauan Oddie, Tamara mulai merasa bahwa Oddie juga ada rasa dengannya. Sembari Oddie ngoceh apapun yang ada di pikirannya, mulai membicarakan gunung, sawah, sampai eye liner Luna yang dinilai Oddie ketebelan, Tamara mulai memberanikan diri duduk semakin dempet dengan Oddie.

Dasar Oddie yang memang mati rasa, ngga kerasa kalau didempet, tetap berceloteh tanpa henti. Akhirnya Tamara perlahan memegang jemari Oddie dan menggenggamnya. Setelah ngoceh bak komentator pertandingan bola antara Manchester United VS Chelsea, mendadak Oddie bermetamorfosis menjadi Aziz Gagap. Oddie tidak melepaskan genggaman Tamara yang sedang melihat pemandangan dari jendela, tetapi Oddie juga tidak ingin sohib-sohibnya mengetahui adegan Tamara menggenggam tangan Oddie karena hal itu akan memicu keriuhan yang teramat sangat. Akhirnya Oddie mengalihkan perhatian Tamara dengan menawarkan snack yang dibawa oleh Bokir.

“Eh, bentar, gue yakin lu pasti laper, belum sarapan kan pasti? Gue ambilin lempernya ya. Enak banget. Asli buatan Emaknya Bokir, tanpa boraks,” ujar Oddie sambil berdiri dan menyambar sekotak makanan yang disimpan rapi oleh Bokir di belakang bus.

Tamara yang melihat kesalahtingkahan Oddie hanya tersenyum dan menunggu. Dari kejauhan Tamara melihat tingkah Bokir yang sedang merayu Luna dengan syair-syair kilat buatan Ruben:

Birunya langit tak sebiru bola matamu. Jernihnya mata air tak sejernih hatimu. Di bawah kolong gua daku melihat seberkas sinar. Tak ayal diriku merasa lega, karena kegelapan itu telah sirna dengan adanya kehadiranmu. Oh, Luna, dengan apakah kudapatkan sinar itu selamanya, agar kulit dan hidupku tiada menjumpai petang.

Puisi tersebut sama sekali tidak menggoyahkan hati Luna, dia dan gengnya cuma tertawa layaknya menonton acara Ketoprak Humor. Di antara hiruk pikuk para penghuni bus,  sesekali Luna menengok ke belakang untuk melihat apa yang dilakukan Oddie dan Tamara. Alhasil, adegan yang dilihat oleh Luna adalah ketika Oddie bercanda menyuapkan lemper ke mulut Tamara.

***

Perjalanan selama hampir dua jam begitu terasa. Dua jam perjalanan yang didominasi oleh eksistensi Bokir serasa menonton film Rise of the Planet of the Apes. Rombongan Oddie dan kawan-kawan akhirnya sampai di sebuah perkemahan yang begitu luas dan asri. Kontan waktu mereka datang, Oddie dan rombongannya sudah tidak sabar untuk menempati tendanya masing-masing. Namun, sesuai SMS Aldo, Oddie dan yang lain harus menempati area yang sedikit jauh dari Camp Pusat.

“Sorry ye temen-temen, gara-gara keisengan gue akhirnya kita dapat tenda agak jauhan,” ucap Oddie selama perjalanan menuju tenda mereka. Di luar dugaan, Geng Cuwit-Cuwit justru sama sekali tidak ngomel, mereka justru berterima kasih dengan ide Oddie yang membuat mereka terpingkal-pingkal selama perjalanan. Tetapi respon para wanita cantik tersebut berubah ketika melihat suasana di area tenda yangsedikit mengerikan.

“Od, lu lagi ga ngerjain kita lagi kan?” ujar Luna dengan nada lirih. Bokir yang merasa pertolongonnya akan dibutuhkan langsung mendekat ke Luna.

“Od, belum-belum setannya udah ndeket nih,” ledek Luna kepada Bokir di sela-sela ketakutannya.

“Ga usah takut Lun, gue yakin kok Oddie dan temen-temennya bisa ngelindungin kita-kita,” ujar Tamara menenangkan Geng Cuwit-Cuwit.

“Iya, gue yakin juga ga bakal ada apa-apa kok. Kan di sini kita rame-rame, yuk kita rapiin barang-barang kita, kata Aldo sebentar lagi persiapan untuk acara barbeque-an, setelah ini kita bantuin mereka,” ujar Oddie sambil melemparkan senyum ke seluruh kawannya.

Tidak lama setelah Oddie berbicara, mereka semua menyebar ke tenda masing-masing. Geng Cuwit-Cuwit dan Tamara berada di dalam satu tenda, di depan tenda mereka adalah tenda para pria-pria badung yang bersiap untuk menjaga wanita-wanita tersebut di malam hari.

“Gue bakal jagain itu tenda, gue rela kagak tidur semaleman biar ga ada satupun yang bisa gangguin tuan putri gue,” tutur Bokir dengan penuh ambisi di dalam tenda. Oddie dan sohibnya yang lain tidak menghiraukan tekad sohibnya yang satu itu. Mereka semua bergegas dan keluar tenda untuk berkumpul bersama seluruh peserta Camp Persahabatan.

“Woi, woi, tungguin gue napa, gue belum ganti celana, jagain tendanya, woooiii.....” teriak Bokir memanggil sohibnya yang sudah keluar dari tenda dan menuju camp pusat.

***

Malam hari telah tiba. Pesta Barbeque dan api unggun dimulai dengan lawakan-lawakan Bokir dan Ruben. Mereka berdua menceritakan detail keisengan Oddie yang membuat mereka panik sesaat. Beberapa anggota ada yang sedang sibuk membakar sate barbeque, membuat api unggun, sampai mempersiapkan acara talent show.

“Oke2 guys, kita bakal buat pertunjukkan luar biasa malem ini. Kalian bisa mengeksplor semua bakat kalian malem ini. Tentunya bakal ada juri yang bakal menilai. Jurinya gue, Oddie, dan Luna,” jelas Aldo di depan semua peserta.

Kegaduhan mulai menggegap gempita di camp pusat. Seluruh peserta yang akan melakukan pertunjukkan talent show mempersiapkan peralatan untuk penampilannya. Bokir, Ruben dan Septian kembali ke tenda dengan menggunakan senter mininya untuk mengambil peralatan mereka. Walhasil, ketika mereka sampai sekitar radius 15 meter dari tenda, mereka melihat keganjilan di dalam tendanya.

“Stop stop stop, lu liat ga, kayaknya di dalem tenda kita ada orang?” ujar Septian yang diikuti oleh rasa panik Bokir dan Ruben.

“Sep, balik aja yuk, mending kita acapella aja, kagak usah pake gitar lu,” timpal Bokir yang mulai pengen pipis di celana.

“Lu kan penampilannya kudu pake speaker portablenya Gori, masa lu nari On The Floor-nya Jeniffer Lopez kagak pake musik??” paksa Septian.

“Bodo’, mending gue nari kecak pake suara gue sendiri daripada gue ketemu kembaran gue,” tutur Bokir yang semakin mundur dari langkahnya.

Mendadak tenda tersebut menjadi semakin heboh, berisik dan tampak goyang ketika dilihat dari luar.

“Wassalam dah, gue pamit duluuu....hiiiiiii....” teriak Bokir sambil berlari. Alhasil Ruben dan Septian ikutan kalang kabut.

Tiga laki-laki  yang mengaku macho itu lari kalang kabut tanpa meninggalkan jejak sambil berteriak. Sesampai di camp pusat, mereka mencoba untuk bercerita apa yang mereka lihat kepada Oddie.

“Kagak usah cerita macem-macem dah lu pada, mau ngerusak konsentrasi gue jadi juri nih biar kalian yang menang? No KKN, No No No...” ujar Oddie bak anggota KPK.

“Sumprit, serah lu. Ntar lu juga bakal ketemu,” timpal Bokir menakut-nakuti Oddie.

Meskipun sempat shock sesaat, acara talent show tetap dijalankan dan mereka mampu fokus dengan penampilan mereka masing-masing.

Beruntung perlengkapan yang dibutuhkan oleh Bokir, Septian, dan Ruben dapat disediakan oleh panitia camp yang lain. Ketiga juri bak American Idol tersebut sudah mulai duduk di singgasananya. Aldo, Luna, dan Oddie duduk berjajar untuk melihat bakat-bakat kawannya. Acara Talent show yang memakan waktu 80 menit tersebut menghangatkan suasana malam, sorakan demi sorakan keluar dari berbagai tekstur bibir, mulai dari monyong sampai super monyong. Bahkan sempat memanas saat menonton goyangan Hit On The Floor milik Bokir Lopez. Alhasil, karena mampu menerima banyak timpukan kacang, pemenang talent show tersebut diperoleh Bokir.

***

“Gila goyangan lu Kir. Lu kudu go international. Mumpung Thailand lagi buka lowongan tuh di Pattaya, buruan ngelamar,” ledek Gori yang kerap ke luar negeri. Perjalanan Oddie cs dan Luna cs ke tenda mereka masih diisi oleh topik tarian Bokir.

“Dari tadi gue kok ngga ngeliat Tamara ya? Jangan-jangan pingsan lagi pas liat goyangan lu,” sindir Suzanne, anggota Geng Cuwit-Cuwit.

“Lho Od, masa lu ga tau di mana Tamara? Kalau dia kenapa-napa gimana?” ujar Luna dengan nada tinggi.

“Gue ngga kenapa-napa kok,” ujar Tamara yang tiba-tiba muncul dari belakang. Sontak perbuatan Tamara tadi membuat Oddie cs dan Luna cs berteriak kaget.

“Waaaaaaaaaa.....gila lu Tam, dari mana aja lu? Lu kagak melayang kan sekarang? Kagak ada suara kagak ada aba-aba muncul aja,” tutur Ruben yang berada persis membelakangi Tamara.

“Sorry kalau gue diem aja, habisnya kalian seru banget topiknya,” ujar Tamara yang diikuti senyuman.
Merasa aneh dengan cara jalan Tamara, Oddie mendekat dan sengaja berjalan di samping Tamara. Oddie menggandeng tangan Tamara selama perjalanan. Tamara yang melihat perbuatan Oddie terkejut dan ingin mengutarakan sesuatu, tapi buru-buru disela oleh Oddie.

“Ceritanya ntar aja di tenda,” tutur Oddie sembari tersenyum.

***

Krik Krik.... Krik Krik..... Krik Krik....

“Hahahahahaa.... Trus-trus, emak gue tiba-tiba ditaksir ama tukang becak depan gang gue, gilanya, emak gue lagaknya udah kayak Nikita Willy di sinetron Putri yang Ditukar....Jual mahal abis....  tapi tiap ke pasar musti dandan menor biar dilihat ama tukang becak ntu, wakakakaka....” cerita Bokir yang membuat Luna CS, Septian, Gori, dan Ruben terbahak di tenda Geng Cuwit-Cuwit malam itu.

Selagi Bokir bercerita tiada henti, Oddie sedang menemani Tamara yang kakinya terluka cukup parah. Tampaknya Tamara tadi berusaha untuk menaklukkan ular yang ada di dalam tenda Oddie cs selagi anak-anak sedang memersiapkan Night Party tadi. Dengan alasan ingin membicarakan sesuatu yang penting, Oddie meminta teman-temannya untuk meninggalkan mereka berdua demi mengobati kaki Tamara di dalam tenda Oddie cs.

“Oh, jadi itu yang dibilang anak-anak setan di dalem tenda,” ujar Oddie sambil membalut perban di kaki Tamara.

“Adududuh Od, sakiiittt...” rintih Tamara.

“Sorry sorry, kekencengan ya? Kayaknya lu harus dibawa ke camp pusat deh, bentar ya gue mau.....” belum sempat Oddie menuntaskan niatnya, tiba-tiba Tamara memeluk Oddie dengan erat.

“Lu masih ga berubah Od sejak kecil. Sikap lu selama ini yang selalu care yang ngebuat gue ga pernah berhenti mencintai lu,” tutur Tamara.

Jantung Oddie copot bukan kepalang. Ingin melepaskan pelukan Tamara, tapi Oddie benar-benar merasa tidak enak untuk melepaskan pelukan di malam yang dingin itu. Pelukan itu benar-benar terasa tulus dari hati yang paling dalam.

“Buset, buset, ampuni gue emak, ampuni gue abah, mampus gue kalo Bokir, Ruben, Septian, Gori ato Geng Cuwit-Cuwit masuk,” gumam Oddie dalam hati.

“Gue udah yakin, lu ga bakal bales pelukan gue. Ternyata Lu masih belum bisa terima gue meskipun gue sudah berubah penampilan secara total. Tampaknya penampilan gue dulu masih terlalu buruk untuk diinget,” ujar Tamara yang diikuti oleh isak tangis kecil.

Melihat air mata yang menetes di pipi Tamara, Oddie tidak tega untuk melihatnya. Oddie menghapus air mata Tamara dengan sapu tangan yang dibawanya di dalam saku. Setelah beberapa menit adegan mengamplas pipi Tamara berjalan, akhirnya Oddie siap untuk membuka mulut.

“Tamara Angela Gunadi. Murid kelas 3b di SD Tunas Bangsa. Pernah nembak gue kemudian diledek temen-temen satu sekolah karena penampilan yang kelewat cupu abis. Kacamata kanan – kiri minus 5, rambut berkepang, rok selalu di atas puser, punya tompel tembus pandang di daerah punggung. Hmmm... Selama ini gue sama sekali ngga nyangka kalau lu ini bocah cewek lugu itu,” jelas Oddie sambil masih tetap mengusap air mata Tamara. Di sela-sela menenangkan Tamara, Oddie masih sedikit terkejut dengan metamorfosis habis-habisan yang dialami oleh Tamara.

“Satu hal yang perlu lu inget Tam, hati lu itu putiiiiihhh banget. Pakai bayclin ya Tam?” gurau Oddie. Tak tahan mendengar celetukan konyol Oddie, Tamara tertawa kecil  dengan iringan isakannya.

“Banyak cowok yang antri untuk bisa jadi pendamping lu kelak. Lu berhak banget dapet yang terbaik,” tutur Oddie.

“Apa sekarang ada seseorang di hati lu Od? Mungkin cewek yang foto bareng lu di ruang tamu itu?” tanya Tamara dengan nada yang lembut dan penuh kepasrahan.

“Setiap orang punya posisi masing-masing di hati gue. Bokir, Septian, Gori, Luna, Ruben, termasuk lu, lu adalah orang yang ngertiin gue. Sejak lu ngerawat gue waktu sakit, gue yakin lu adalah sahabat baru gue, buktinya gue langsung sembuh. Jadi jangan tinggalin gue ya Tam, meskipun kelak kita ga bersatu atas nama cinta,” tutur Oddie yang belakangan sering baca karya Khalil Gibran, lumayan, akhirnya bisa menambah pesona Oddie dan membuat tangis Tamara makin menderu.

Heningnya malam hanya dipecah oleh suara jangkrik dan isakan tangis Tamara. Perasaaan Tamara begitu bercampur aduk, ingin rasanya ia dipatok ular sekali lagi agar bisa kembali memeluk Oddie.

“Maafin gue ya Tam. Gue ga bermaksud ngecewain lu. Kita masih tetep sahabatan kan?” tanya Oddie dengan nada yang lembut bak anggota MLM. Layaknya seseorang yang berhasil diprospek, Tamara melemparkan senyum termanisnya, berharap bisa menggugah hati Oddie untuk meralat kembali keputusannya.

Namun, cinta Oddie memang belum berlabuh di hati Tamara. Tamara harus menunggu kapal-kapal cinta lain yang bernaung di hatinya. Luka ular tersebut tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan luka hati yang dialaminya saat ini.

“Hebat ya lu Od, bener-bener bukan orang yang ngelihat fisik. Gue mesti kasih selamet buat cewek lu kelak.  Yaahhh....Setidaknya apa yang ingin gue katakan waktu SD dulu bisa gue katakan langsung ke lu, yang bener-bener tuluuuss dari hati gue” tutur Tamara yang kemudian diikuti ekspresi senyum kelegaan.

Dari kejauhan, kedua tenda yang berdiri di hutan itu seolah-olah memiliki aura yang berbeda. Ada canda di tenda Luna cs dan ada cinta di tenda Oddie cs. Ribuan kunang-kunang menaungi kedua tenda itu dengan sinarnya yang indah.

bersambung...

Kamis, 15 September 2011

Habis Gelap Terbitlah Terang (Chapter 5)

pic. by : Johansen Halim
Sampai detik ini, Oddie sama sekali tidak ingin bertemu Bokir. Rasa trauma masih menggelayuti pikiran Oddie. Setelah insiden “Bokir KW 1” muncul di depan Oddie ketika siaran ‘Are You Lonely?’ di Soul FM, Oddie tidak masuk sekolah untuk sementara karena mengalami demam.

Memang sialnya Bokir, jika dilihat lagi permasalahannya tidak seharusnya Bokir dipersalahkan lantaran raganya diduplikat oleh makhluk halus. But, life must go on. Tidak ada Oddie, proses belajar mengajar SMA Pahlawan Bangsa harus tetap dijalankan. Meskipun di sekolah tanpa kehadiran Oddie, siang itu empat sohibnya masih nongkrong di tepi lapangan basket.

“Lu kudu tanggung jawab Kir, kasihan kan Oddie paranoid  sampai demam begitu. Kalau muka lu ga kayak begini setan kan juga males minjem raga lu” ledek Ruben yang diikuti gelak tawa Septian dan Gori.

“Weee, resek banget sih lu ben. Benernya ini semua ga akan terjadi juga sih kalau gue maksain dateng ke Soul FM.  Biar tuh setan ga gangguin dia. Toh, gue juga masih bisa jalan, Oddie...Oddie...” sesal Bokir sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sembari Bokir menyesali perbuatannya, tidak henti-hentinya jemari lentik Bokir memungut kacang bawang yang dibawakan oleh Emaknya.

Bercengkerama tanpa  Oddie memang terasa hampa. Tidak ada sosok yang bisa menjadi pemicu sebuah topik karena Oddie memang sang pencetus topik-topik seru. Namun, di kala empat sahabat tersebut masih membicarakan insiden Oddie VS “Bokir KW 1,” tiba-tiba seberkas cahaya muncul di belakang Bokir. Seorang wanita bertubuh tinggi, langsing, berambut kecoklatan yang terurai di atas bahunya, berkulit putih, dan berparas menawan menghampiri mereka. Matanya yang kecil mampu menyilaukan tiga pasang mata yang memandangnya. Belum lagi paras wanita tersebut jelas menunjukkan kalau dia bukan sepenuhnya berdarah Indonesia.

“Permisi, boleh gabungan ngga?” tanya wanita berbibir tipis tersebut.

“Ooo...Boleh-boleh... Boleh banget!!” seru Septian dan Gori. Bokir yang membelakangi wanita tersebut dan ingin tahu siapa suara nan lembut itu tidak diperbolehkan menoleh.

“Kir, lu ga mau ada korban yang pingsan lagi kan? Kasian kalo siang-siang wanita secantik itu udah liat makhluk halus” cegah Septian sambil memegang pundak Bokir agar tidak memutar arah. Seperti biasa, Bokir hanya bisa sewot meladeni kelakuan iseng sohibnya. Tampaknya keisengan Septian mampu menghangatkan suasana di siang yang mendung itu.

***

“Oooo, ceritanya begitu. Nyeremin banget ah...” tukas Tamara saat mendengarkan detail cerita pengalaman Oddie  dari Ruben. Tamara adalah siswi kelas XII SMA Pahlawan Bangsa penjurusan Ilmu Alam. Berbeda dengan Oddie dan kawan-kawan yang duduk di kelas XII penjurusan Ilmu Sosial. Sembari Tamara mendengarkan Ruben bercerita,  Bokir sedikit tertunduk lesu karena sesekali Tamara menatap Bokir untuk memvisualisasikan bentuk setan yang ditemui Oddie.

“Ooo.. nyeremin banget ya pasti, pantes sampai Oddie demam. Kalian sampai sekarang masih belum besuk Oddie?” tanya Tamara.

“Kalau gue, Septian, dan Gori sih udah nemenin seharian kemarin. Nah, si Oddie masih belum mau ketemu Bokir. Kami sih berencana ngebuatin password di antara mereka, biar bisa bedain Bokir asli dan palsu,” jelas Ruben diikuti senyuman kepada Tamara.

“Hahaha.. Ada-ada aja ide kalian. Pertemanan kalian seru banget ya. Aku jadi pengen terus bareng kalian biar bisa ketawa-ketawa gini,” ucap Tamara. Mendengar harapan Tamara, empat sohib Oddie jadi ingin segera mewujudkan harapan tersebut. Mereka dengan senang hati mengizinkan Tamara untuk sering-sering nongkrong bareng mereka.

“Wow, silakan banget!! Kebetulan kami mau bentuk Black Eyed Peas Gadungan. Will.I.Am udah ada, tinggal Fergie-nya aja,” ujar Septian sambil melirik Bokir yang dimaksudkan sebagai Will.I.Am.  Bokir cuma bisa melotot dan mengancam akan menjitak Septian. Gelak tawa mereka menggema di seantero lapangan basket SMA Pahlawan Bangsa.  Di tengah-tengah asyiknya membicarakan Oddie sebagai topik utamanya, Tamara menyela dan mengutarakan sesuatu kepada emat sohib Oddie itu.

“Gimana kalau nanti kita besuk si Oddie? Sekalian ngeresmiin aku jadi anggota  Black Eyed Peas Gadungan,” sindir Tamara yang masih melanjutkan gurauan Septian.

“Fergie memang brillian. Will.I.Am sampe sekarang ga pinter-pinter. Kalau gitu sampai ketemu nanti ya. Jam tujuh malem kita langsung ketemuan di rumah Oddie,” ujar Gori merangkum hasil kesepakatan mereka sembari dijitak Bokir yang tak sanggup menerima hinaan sohib-sohibnya.

***

Tepat pk 18.50 WIB, Tamara sudah berada di depan pintu rumah Oddie, tetapi tidak punya keberanian untuk langsung masuk. Dia datang dengan membawa makanan kesukaan Oddie, Ikan Gurami Goreng Asam Manis. Info makanan favorit Oddie tidak lain dan tidak bukan didapat dari Bokir. Tamara rela memiliki nomor Bokir demi mengetahui berbagai hal tentang Oddie. Kali aja nomor Bokir juga mengandung unsur mistis sehingga bisa dipasang di judi togel.

Sambil menunggu di depan teras rumah Oddie, Tamara duduk di kursi taman Oddie dan bermain-main dengan BlackBerry Onyxnya. Di tengah-tengah asyiknya melihat status BlackBerry Messenger (BBM) teman-temannya, Gori mendadak memberikan pesan melalui BBM:

Gori : PING!!! Sorry Tam, gue PING!!! Biar bisa geterin hati lu, hehehe.. Gini Tam, gue, Septian, Ruben, ama Bokir masih pengen cari buah tangan buat si Oddie. Gue juga kudu jemput mereka bertiga di rumah masing-masing. Jadi kemungkinan besar kami bakal telat banget. Kalau lu udah sampe masuk aja dulu. Kali aja trauma dia bisa hilang begitu lihat cewek secantik lu.

Tamara : Gitu ya. Gue ga enak aja sih, kan gue juga ga terlalu akrab ama Oddienya. Gue nunggu kalian aja deh.

Gori : Yakin nih? Mungkin bakal molor 1 jam lho. Gue saranin mending masuk aja. Oddie mah asik banget. Walaupun dia ga akrab ama lu, dia pasti bisa mencairkan suasana. Bisa-bisa dia malah naksir lu lagi, hahaha. Gue pasti usahain cepet sampai kok. Oke?

Tamara : Hahaha.. Ada-ada aja lu Gor. Oke. C u soon.

Meskipun mendapat dorongan dari Gori, Tamara tidak kuasa untuk masuk ke dalam rumah Oddie. Hatinya berkecamuk menghadapi pilihan antara menunggu atau langsung masuk.

“Kalau langsung masuk, gue bisa ngobrol-ngobrol ama Oddie berdua. Tapi kalau ntar garing, canggung, gawat dong,” gumam Tamara dalam hati. Saat Tamara masih mengalami kegalauan antara masuk dan tidak, Mami Oddie yang baru pulang dari arisan menegurnya dengan antusias.

“Teman Oddie ya? Masuk aja. Oddie lagi di dalam kok. Agak demam sedikit. Ga usah malu-malu,” ajak Mami Oddie sembari menggandeng tangan Tamara masuk ke dalam rumah. Keramahan Mami Oddie membuat Tamara menjadi nyaman untuk bertamu. Bahkan, tanpa perlu waktu lama Tamara bisa mengambil hati Mami Oddie lewat buah tangan yang dibawanya.

“Aduh, ngga usah repot-repot. Terima kasih. Oddie itu ngga sakit, cuma kena penyakit trauma dan malas sekolah, keenakan makanan ini dikasih ke Oddie,” canda Mami Oddie. Tamara hanya bisa tertawa dan melihat sekeliling interior rumah Oddie. Sesekali dia memandangi foto-foto Oddie yang terpajang di dinding dan rak ruang keluarga. Tamara tersenyum kecil ketika melihat pose-pose nakal Oddie dan adiknya, Mimi. Sejenak Tamara terpaku ketika melihat foto Oddie yang sedang berpelukan dengan seorang wanita yang tidak dikenalnya. Dia tidak sadar bahwa sepanjang lamunannya, Mami Oddie masih berbicara dengannya.

“Dek? Kenapa?” tanya Mami Oddie memecah lamunan Tamara di depan foto Oddie dan wanita tersebut.

“Oh iya, maaf tante, maaf. Mendadak ngelamun,” tutur Tamara dengan nada yang tinggi dan penuh sesal.

“Foto itu waktu Oddie ketemu temen lamanya yang datang dari Amerika,” terang Mami Oddie. Mendengar penjelasan Mami Oddie tadi, Tamara seperti kehilangan semangat untuk masuk ke kamar Oddie. Tetapi, kembali Mami Oddie mendorong Tamara untuk menemui Oddie.

“Ini sudah tante sajikan Ikan Gurami Asem Manisnya. Anterin ke kamar Oddie, sekalian ini ama obatnya, suruh dia minum, kali aja kalau sama kamu gampang,” perintah Mami Oddie sambil menyodorkan nampan itu ke Tamara. Meski ragu-ragu akhirnya Tamara berhasil masuk ke dalam kamar Oddie. Dia mendapati Oddie sedang tidur menghadap dinding. Perlahan Tamara mencoba untuk membangunkan Oddie yang dibalut dengan selimut tebalnya.

“Od, bangun bentar dong, makan dulu, diminum obatnya,” panggil Tamara dengan sedikit rasa takut karena tidak ingin mengganggu istirahat Oddie. Perlahan Oddie memutar balik badannya untuk melihat suara siapa gerangan yang membangunkan tidur sang pangeran. Betapa terkejutnya Oddie melihat seorang Tamara di dalam kamarnya.

“Lho, Tamara? Ga salah rumah Tam? Salon masih 300 meter dari sini Tam,” heran Oddie. Belum Tamara menjawab tiba-tiba Oddie berlagak layaknya seorang hamba yang bersyukur pada Tuannya.

“Memang kemarin hamba bersama hantu Bokir, tapi terima kasih atas karuniaMu Tuhan, kini Kau memberikan Malaikat Tamara untuk merawat hamba, di balik kelambu selalu ada hikmah, amiiinn,” ucap Oddie memanjatkan syukur.

Tamara yang melihat kelakuan spontan Oddie hanya bisa tertawa. Sesuai dengan perkataan Gori, Oddie akan sangat mudah mencairkan suasana meskipun Tamara notabene bukan teman dekatnya. Tamara membantu Oddie untuk mengambil makanan dan meminum obatnya. Belum genap satu jam sesuai janji Gori, akhirnya empat sohib Oddie tiba dan langsung menuju ke kamar Oddie. Pemandangan romantis tersebut tidak luput dari pandangan mereka dan aksi ledekan Gori, Septian, Bokir dan Rubenpun terjadi.

“Mantaaaaappp soobb... Ibarat ilmu sastra nih “Habis gelap, terbitlah terang. Habis ketemu setan Bokir, sekarang ketemu malaikat Tamara,” ujar Ruben sambil berlagak menirukan sastrawan Khalil Gibran.
Mereka tertawa bersama, dan Oddie tampaknya sudah bisa menerima kehadiran Bokir. Di tengah-tengah tawa itu, Tamara hanya tersenyum dan menatap Oddie dengan pandangan lembut.

bersambung...