Tampilkan postingan dengan label Serial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serial. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 September 2011

Satu Yang Tak Bisa Lepas (Chapter 6)

pic. by : Johansen Halim
Rutinitas sebagai siswa SMA Pahlawan Bangsa kembali dijalani Oddie Laksmono. Iklim kelas XII IPS 1 juga menjadi lebih sejuk dengan hadirnya Oddie kembali. Bokir, Septian, Ruben dan Gori menjadi lebih bersemangat untuk masuk sekolah. Seperti biasanya ketika mereka pulang sekolah, selalu menyempatkan diri beberapa jam untuk duduk bersama di tepi lapangan basket.

“Sob, Tamara kok tiba-tiba besukin gue kemarin?” tanya Oddie sambil mendribble bola basket di depan sohib-sohibnya.

“Gue juga heran sih, ada angin apa dia besukin lu. Waktu itu sih adegannya sama kayak sekarang gini. Kami pada kumpul, tiba-tiba aja dia dateng nawarin diri buat gabung, apa salahnya juga sih pikir kami,” cerita Gori yang pertama kali mengizinkan Tamara gabungan di kelompok mereka.

“Aneh ga sih menurut kalian?” heran Oddie yang kemudian diikuti suasana hening sejenak. Tapi, dasar memang geng ceria yang selalu positive thinking, mereka tidak ambil pusing dengan keheranan Oddie. Mereka akhirnya mengalihkan topik mengenai acara Camp Persahabatan kelas XII SMA Pahlawan Bangsa. Camping itu hanya diikuti oleh beberapa anak kelas XII yang memang berniat untuk bersenang-senang bersama.

“Udah, daripada ngomongin yang ngga-ngga, kita pikirin aja acara camp kita. Denger-denger pesertanya udah full, itu udah termasuk Luna ngga ya?” khayal Bokir yang masih mengharapkan cinta Luna. Maklum, sejak kejadian Status di Facebook Luna itu, Bokir malunya bukan kepalang. Sampai sekarang saat Luna atau bahkan Geng Cuwit-Cuwit lewat di depan Bokir, mereka selalu tertawa geli.

“Kemarin gue sempet lihat geng Cuwit-Cuwit barengan kumpulin formulir pendaftaran di depan ruang OSIS. Pastinya mereka bakal ikutan,” yakin Septian yang juga diamini oleh Ruben dan Gori.

Setiap kegiatan sosial maupun keakraban yang diadakan oleh SMA Pahlawan Bangsa, Oddie dan sohibnya hampir tidak pernah absen.  Termasuk acara Camp Persahabatan ini, karena tanpa kehadiran mereka camp tersebut diyakini tidak akan jadi camp yang berkesan. Sembari sohibnya lagi ribut membayangkan satu bus dan satu tenda dengan Geng Cuwit-Cuwit, bola mata Oddie mulai berjalan ke kanan ke kiri. Ujung lidahnya bertemu dengan bibir atasnya yang tipis. Senyuman kecil tersungging manis di wajah Oddie.

“Gue ada ide untuk camp kali ini,” ujar Oddie sambil diikuti dengan nada misterius.
Keempat sohib Oddie tiba-tiba hening, cuma bisa melongo dan perlahan mendekat ke Oddie. Ide-ide brilian yang kadang berakhir kacau selalu dinanti oleh sohibnya. Di luar dugaan sohibnya, Oddie langsung berlari ke tengah lapangan basket dan melakukan lay up di ring basket.

“Tunggu aja tanggal mainnya,” teriak Oddie dari jauh yang kemudian diikuti sorakan Bokir, Septian, Ruben, dan Gori.

***

H-1 Camp Persahabatan
(Kamar Oddie)

“........jaket, selimut, minyak angin, biskuit, pisau, oke FIX!” seru Oddie sembari menutup ranselnya yang akan dibawa besok. Belum 10 detik Oddie beranjak dari tempatnya, tiba-tiba teriakan Mimi memecah ruang tamu. Suaranya yang digadang-gadang mirip Mariah Carey itu berkumandang dengan kencangnya hingga titian 6 oktaf F#m.

“Kak Oddieee, telepooonnnnn....!!” teriak Mimi dengan gaya penyanyi sereosa khas Italia. Teriakan Mimi benar-benar jauh dari kata merdu, itu yang membuat Oddie langsung menyambar telepon tersebut dari tangan Mimi.

“Thank u cantik,” ujar Oddie tersenyum dan mengusir Mimi dari tempatnya. Mendapat pujian singkat itu, Mimi berjalan dengan langkah tegap dan penuh percaya diri bak Miss Angola.

PERCAKAPAN DI TELEPON
“Gimana Gor, ada?” tanya Oddie dengan penuh semangat.

“Ada sih, kebetulan banget kagak dipakai. Emang buat apaan Od pake itu? Masa mereka masih kurang sampe gue mesti bawa yang beginian???” tanya Gori dengan nada yang tinggi karena terlalu penasaran dengan tingkah pola Oddie.

“Udah, nurut aja lu. Pokoknya lakuin permintaan gue yang kayak gue bilang di taman belakang sekolah tadi, ya ya ya? Iya dong pastinya, hehehe...” rayu Oddie yang mulai meneteskas air liurnya di lantai.

“Iya iya, gue juga udah terlanjur nyiapin, mau batal juga ga mungkin. Oke dah, sampai ketemu jam 07.00 besok ya? Bye soobb..” ujar Gori menutup percakapan mereka melalui telepon.

“Daaa Gor, ai lap yu pul,” ujar Oddie yang diikuti dengan bibir monyong ala Bokir.

Tut tut tut tut tut tut........

Setelah menutup teleponnya, Oddie nyengar-nyengir kayak kebo di sawah. Oddie berjalan melenggang layaknya milyuner yang berubah status menjadi trilyuner.

***

Pukul 08.00 WIB, SMA Pahlawan Bangsa begitu sepi. Hening, hanya sinar mentari dan angin semilir yang memenuhi area sekolah. Tetapi, tampak dari kejauhan, seorang pria berpakaian necis, seperangkat aksesoris ternama melekat di tubuhnya. Berdiri seorang pria (lumayan) tampan di samping bus mini bermuatan 15 orang.

“Apa gue yang kepagian, ato gue yang salah info? Kagak mungkin. Hmmm.... Eh, tuh kan, itu Luna, dia aja baru dateng,” gumam Gori yang diikuti oleh rasa lega karena melihat dari jauh Luna membawa ransel dan seperangkat alat camp.

“Hai Lun, mana para sohib lu?” tanya Gori ketika sudah bertatap muka dengan Luna.

“Ngomongnya sih udah di jalan. Mereka pada barengan kok, satu mobil ama Mathilda, dianterin ama sopirnya,” ujar Luna menerangkan kronologi keberangkatan Geng Cuwit-Cuwit.

“Aneh juga sih tapi. Masa ga ada anak lain yang tau kalau jam segini kumpulnya?” ujar Gori dengan penuh rasa heran. Luna juga senada dengan apa yang dirasakan oleh Gori. Sampai pada akhirnya Geng Cuwit-Cuwit datang, kemudian diikuti oleh kehadiran Septian, Ruben, dan Bokir. Mereka semua bertumpah-ruah bersama perlengkapan campnya di lapangan parkir SMA Pahlawan Bangsa.

“Lho, kok cuma kalian berdua, yang lain pada ke mana? Oddie juga belum dateng, aneh bener, jelas-jelas dia yang kabarin kalau jadwal kumpulnya dirubah kan?” tanya Septian kepada Gori dan Luna.

“Iya, aku juga dikabarin jam 08.00 tepat kumpul,” tutur Melani, salah satu anggota Geng Cuwit-Cuwit. Luna CS dan sohib-sohib Oddie mulai meraung-raung dengan keganjilan tersebut karena hanya mereka bersembilan yang berkumpul untuk berangkat camp. Tiba-tiba dari arah utara, tepatnya di gerbang pintu sekolah, muncullah seorang pria yang berjalan dengan langkah pasti. Semakin dekat, dekat, dan dekat. Di anatara keriuhan sembilan orang tersebut, Bokir yang pertama menyadari kehadiran Oddie langsung menghardik dengan gaya polisi intel.

“Wah, jangan-jangan lu nih yang sebarin perubahan jam kumpulnya, jangan bilang kagak lu?!@#$&” semprot Bokir yang diikuti oleh percikan air liurnya hingga mendarat di wajah Oddie.

“Santai-santai. Itu bus dan sopirnya, Spesial buat kita. Gue juga udah kena marah ama Aldo barusan. Tapi, Aldo udah kasih kesempatan ke kita untuk nyusul. So,selama di perjalanan kita bisa goyang bus itu dengan kegilaan kita,” teriak Oddie menyemangati kawanannya agar tidak kecewa. Meskipun mereka semua sempat kesal karena dikerjain Oddie, tetapi mereka tetap bergembira karena bisa menggila bersama di dalam bus tersebut.

Tidak ada lagi raut kemarahan di antara mereka karena mereka tetap bisa ikut Camp Persahabatan. Mereka semua berbondong-bondong masuk ke dalam mini bus milik Gori. Geng Cuwit-Cuwit sibuk menata barangnya ke dalam bus mini tersebut.

*su...wi... wittt....* siulan Oddie

“Sob, sini bentar,” panggil Oddie kepada Bokir, Septian, Ruben, dan Gori untuk mencegah empat sohibnya masuk ke dalam bus mini.

“Ini kan yang kalian mau? Kurang baik apa gue?? Hehehe...,” kata Oddie dengan nada nakal.

“Hahahahahhahahaha.... Bisa aja lu Oddd...” timpal Bokir sambil menjepit kepala Oddie dengan ketiaknya. Sembari menikmati aroma ketek Bokir, Oddie masih bisa berkutik untuk menyampaikan satu berita menggemparkan lagi.

“Bentar, bentar, bentar, lu pada kudu baca nih SMS, dari Aldo,” tutur Oddie sambil menyodorkan handphonenya ke Ruben, Septian, Bokir, dan Gori.

Od, berhubung kalian datengnya pasti telat, gue kayaknya kesulitan ngatur tendanya. Jadi, yang kloter lu gue jadiin satu area ya. Sorry agak jauhan dari camp pusat, anggap aja itu sanksi buat kalian, sapa suruh juga lu pada kompakan telat. Tapi gimanapun juga, ati-ati ya bro di jalan. Meskipun lu pada telat, kami tetep nunggu kehadiran lu semua. C u. Take Care and God Bless You. Aldo (Ketua Panitia Pelaksana).

Mendadak teriakan berkumandang di seantero lapangan parkir SMA Pahlawan Bangsa. Bokir udah kayak pemain bola yang mencetak 18 gol dalam satu pertandingan. Tidak henti-hentinya Bokir memeluk Oddie. Gori hanya bisa geleng-geleng sembari tersenyum. Ruben dan Septian bersujud di tengah lapangan untuk memanjatkan syukur pada Yang Esa. Geng Cuwit-Cuwit yang melihat tingkah pola mereka dari dalam bus hanya melongo dan keheranan. Tidak paham kalau mereka telah terperangkap dalam jebakan iseng Oddie. Akhirnya mereka berangkat tepat pukul 08.15 WIB. Layaknya anak SD yang sedang tur wisata, mereka menyanyikan lagu ‘Naik Delman.’ Saat bus mini akan keluar dari area sekolah, tiba-tiba sesosok perempuan berlari mendekati bus tersebut.

“Pak, tungguuuuuu......!” teriak perempuan tersebut. Mendengar teriakan tersebut, Oddie terkejut dan meminta pak sopir untuk menghentikan busnya.

“Pak, Pak, stop bentar... Emang Geng Cuwit-Cuwit nambah seorang lagi nih?” gumam Oddie dalam hati. Melihat sosoknya yang semakin mendekat, Oddie sangat tidak asing, karena perempuan itu tidak lain dan tidak bukan adalah Tamara.

“Tamara? Kok kamu masih di sini? Belum berangkat ama anak-anak tadi?” tanya Oddie keheranan karena merasa tidak melibatkan Tamara dalam jebakan iseng berhadiah tersebut.

“Gue..hosh hosh...gue kesiangan...hosh hosh...masih boleh ikutan kan?” jawab Tamara dengan nafas yang tersengal.

“Oooo... Ya udah gabung aja di sini,” ajak Oddie dengan tersenyum manis sambil menarik tangan Tamara untuk membantunya naik ke bus mini tersebut. Melihat adegan Telenovela antara Rosalinda dan Fernando Jose tersebut, seluruh isi bus dari menyanyikan lagu ‘Naik Delman’ berganti menjadi ‘My Heart Will Go On.’ Suasana bus makin riuh dan seru.

bersambung...

Kamis, 15 September 2011

Habis Gelap Terbitlah Terang (Chapter 5)

pic. by : Johansen Halim
Sampai detik ini, Oddie sama sekali tidak ingin bertemu Bokir. Rasa trauma masih menggelayuti pikiran Oddie. Setelah insiden “Bokir KW 1” muncul di depan Oddie ketika siaran ‘Are You Lonely?’ di Soul FM, Oddie tidak masuk sekolah untuk sementara karena mengalami demam.

Memang sialnya Bokir, jika dilihat lagi permasalahannya tidak seharusnya Bokir dipersalahkan lantaran raganya diduplikat oleh makhluk halus. But, life must go on. Tidak ada Oddie, proses belajar mengajar SMA Pahlawan Bangsa harus tetap dijalankan. Meskipun di sekolah tanpa kehadiran Oddie, siang itu empat sohibnya masih nongkrong di tepi lapangan basket.

“Lu kudu tanggung jawab Kir, kasihan kan Oddie paranoid  sampai demam begitu. Kalau muka lu ga kayak begini setan kan juga males minjem raga lu” ledek Ruben yang diikuti gelak tawa Septian dan Gori.

“Weee, resek banget sih lu ben. Benernya ini semua ga akan terjadi juga sih kalau gue maksain dateng ke Soul FM.  Biar tuh setan ga gangguin dia. Toh, gue juga masih bisa jalan, Oddie...Oddie...” sesal Bokir sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sembari Bokir menyesali perbuatannya, tidak henti-hentinya jemari lentik Bokir memungut kacang bawang yang dibawakan oleh Emaknya.

Bercengkerama tanpa  Oddie memang terasa hampa. Tidak ada sosok yang bisa menjadi pemicu sebuah topik karena Oddie memang sang pencetus topik-topik seru. Namun, di kala empat sahabat tersebut masih membicarakan insiden Oddie VS “Bokir KW 1,” tiba-tiba seberkas cahaya muncul di belakang Bokir. Seorang wanita bertubuh tinggi, langsing, berambut kecoklatan yang terurai di atas bahunya, berkulit putih, dan berparas menawan menghampiri mereka. Matanya yang kecil mampu menyilaukan tiga pasang mata yang memandangnya. Belum lagi paras wanita tersebut jelas menunjukkan kalau dia bukan sepenuhnya berdarah Indonesia.

“Permisi, boleh gabungan ngga?” tanya wanita berbibir tipis tersebut.

“Ooo...Boleh-boleh... Boleh banget!!” seru Septian dan Gori. Bokir yang membelakangi wanita tersebut dan ingin tahu siapa suara nan lembut itu tidak diperbolehkan menoleh.

“Kir, lu ga mau ada korban yang pingsan lagi kan? Kasian kalo siang-siang wanita secantik itu udah liat makhluk halus” cegah Septian sambil memegang pundak Bokir agar tidak memutar arah. Seperti biasa, Bokir hanya bisa sewot meladeni kelakuan iseng sohibnya. Tampaknya keisengan Septian mampu menghangatkan suasana di siang yang mendung itu.

***

“Oooo, ceritanya begitu. Nyeremin banget ah...” tukas Tamara saat mendengarkan detail cerita pengalaman Oddie  dari Ruben. Tamara adalah siswi kelas XII SMA Pahlawan Bangsa penjurusan Ilmu Alam. Berbeda dengan Oddie dan kawan-kawan yang duduk di kelas XII penjurusan Ilmu Sosial. Sembari Tamara mendengarkan Ruben bercerita,  Bokir sedikit tertunduk lesu karena sesekali Tamara menatap Bokir untuk memvisualisasikan bentuk setan yang ditemui Oddie.

“Ooo.. nyeremin banget ya pasti, pantes sampai Oddie demam. Kalian sampai sekarang masih belum besuk Oddie?” tanya Tamara.

“Kalau gue, Septian, dan Gori sih udah nemenin seharian kemarin. Nah, si Oddie masih belum mau ketemu Bokir. Kami sih berencana ngebuatin password di antara mereka, biar bisa bedain Bokir asli dan palsu,” jelas Ruben diikuti senyuman kepada Tamara.

“Hahaha.. Ada-ada aja ide kalian. Pertemanan kalian seru banget ya. Aku jadi pengen terus bareng kalian biar bisa ketawa-ketawa gini,” ucap Tamara. Mendengar harapan Tamara, empat sohib Oddie jadi ingin segera mewujudkan harapan tersebut. Mereka dengan senang hati mengizinkan Tamara untuk sering-sering nongkrong bareng mereka.

“Wow, silakan banget!! Kebetulan kami mau bentuk Black Eyed Peas Gadungan. Will.I.Am udah ada, tinggal Fergie-nya aja,” ujar Septian sambil melirik Bokir yang dimaksudkan sebagai Will.I.Am.  Bokir cuma bisa melotot dan mengancam akan menjitak Septian. Gelak tawa mereka menggema di seantero lapangan basket SMA Pahlawan Bangsa.  Di tengah-tengah asyiknya membicarakan Oddie sebagai topik utamanya, Tamara menyela dan mengutarakan sesuatu kepada emat sohib Oddie itu.

“Gimana kalau nanti kita besuk si Oddie? Sekalian ngeresmiin aku jadi anggota  Black Eyed Peas Gadungan,” sindir Tamara yang masih melanjutkan gurauan Septian.

“Fergie memang brillian. Will.I.Am sampe sekarang ga pinter-pinter. Kalau gitu sampai ketemu nanti ya. Jam tujuh malem kita langsung ketemuan di rumah Oddie,” ujar Gori merangkum hasil kesepakatan mereka sembari dijitak Bokir yang tak sanggup menerima hinaan sohib-sohibnya.

***

Tepat pk 18.50 WIB, Tamara sudah berada di depan pintu rumah Oddie, tetapi tidak punya keberanian untuk langsung masuk. Dia datang dengan membawa makanan kesukaan Oddie, Ikan Gurami Goreng Asam Manis. Info makanan favorit Oddie tidak lain dan tidak bukan didapat dari Bokir. Tamara rela memiliki nomor Bokir demi mengetahui berbagai hal tentang Oddie. Kali aja nomor Bokir juga mengandung unsur mistis sehingga bisa dipasang di judi togel.

Sambil menunggu di depan teras rumah Oddie, Tamara duduk di kursi taman Oddie dan bermain-main dengan BlackBerry Onyxnya. Di tengah-tengah asyiknya melihat status BlackBerry Messenger (BBM) teman-temannya, Gori mendadak memberikan pesan melalui BBM:

Gori : PING!!! Sorry Tam, gue PING!!! Biar bisa geterin hati lu, hehehe.. Gini Tam, gue, Septian, Ruben, ama Bokir masih pengen cari buah tangan buat si Oddie. Gue juga kudu jemput mereka bertiga di rumah masing-masing. Jadi kemungkinan besar kami bakal telat banget. Kalau lu udah sampe masuk aja dulu. Kali aja trauma dia bisa hilang begitu lihat cewek secantik lu.

Tamara : Gitu ya. Gue ga enak aja sih, kan gue juga ga terlalu akrab ama Oddienya. Gue nunggu kalian aja deh.

Gori : Yakin nih? Mungkin bakal molor 1 jam lho. Gue saranin mending masuk aja. Oddie mah asik banget. Walaupun dia ga akrab ama lu, dia pasti bisa mencairkan suasana. Bisa-bisa dia malah naksir lu lagi, hahaha. Gue pasti usahain cepet sampai kok. Oke?

Tamara : Hahaha.. Ada-ada aja lu Gor. Oke. C u soon.

Meskipun mendapat dorongan dari Gori, Tamara tidak kuasa untuk masuk ke dalam rumah Oddie. Hatinya berkecamuk menghadapi pilihan antara menunggu atau langsung masuk.

“Kalau langsung masuk, gue bisa ngobrol-ngobrol ama Oddie berdua. Tapi kalau ntar garing, canggung, gawat dong,” gumam Tamara dalam hati. Saat Tamara masih mengalami kegalauan antara masuk dan tidak, Mami Oddie yang baru pulang dari arisan menegurnya dengan antusias.

“Teman Oddie ya? Masuk aja. Oddie lagi di dalam kok. Agak demam sedikit. Ga usah malu-malu,” ajak Mami Oddie sembari menggandeng tangan Tamara masuk ke dalam rumah. Keramahan Mami Oddie membuat Tamara menjadi nyaman untuk bertamu. Bahkan, tanpa perlu waktu lama Tamara bisa mengambil hati Mami Oddie lewat buah tangan yang dibawanya.

“Aduh, ngga usah repot-repot. Terima kasih. Oddie itu ngga sakit, cuma kena penyakit trauma dan malas sekolah, keenakan makanan ini dikasih ke Oddie,” canda Mami Oddie. Tamara hanya bisa tertawa dan melihat sekeliling interior rumah Oddie. Sesekali dia memandangi foto-foto Oddie yang terpajang di dinding dan rak ruang keluarga. Tamara tersenyum kecil ketika melihat pose-pose nakal Oddie dan adiknya, Mimi. Sejenak Tamara terpaku ketika melihat foto Oddie yang sedang berpelukan dengan seorang wanita yang tidak dikenalnya. Dia tidak sadar bahwa sepanjang lamunannya, Mami Oddie masih berbicara dengannya.

“Dek? Kenapa?” tanya Mami Oddie memecah lamunan Tamara di depan foto Oddie dan wanita tersebut.

“Oh iya, maaf tante, maaf. Mendadak ngelamun,” tutur Tamara dengan nada yang tinggi dan penuh sesal.

“Foto itu waktu Oddie ketemu temen lamanya yang datang dari Amerika,” terang Mami Oddie. Mendengar penjelasan Mami Oddie tadi, Tamara seperti kehilangan semangat untuk masuk ke kamar Oddie. Tetapi, kembali Mami Oddie mendorong Tamara untuk menemui Oddie.

“Ini sudah tante sajikan Ikan Gurami Asem Manisnya. Anterin ke kamar Oddie, sekalian ini ama obatnya, suruh dia minum, kali aja kalau sama kamu gampang,” perintah Mami Oddie sambil menyodorkan nampan itu ke Tamara. Meski ragu-ragu akhirnya Tamara berhasil masuk ke dalam kamar Oddie. Dia mendapati Oddie sedang tidur menghadap dinding. Perlahan Tamara mencoba untuk membangunkan Oddie yang dibalut dengan selimut tebalnya.

“Od, bangun bentar dong, makan dulu, diminum obatnya,” panggil Tamara dengan sedikit rasa takut karena tidak ingin mengganggu istirahat Oddie. Perlahan Oddie memutar balik badannya untuk melihat suara siapa gerangan yang membangunkan tidur sang pangeran. Betapa terkejutnya Oddie melihat seorang Tamara di dalam kamarnya.

“Lho, Tamara? Ga salah rumah Tam? Salon masih 300 meter dari sini Tam,” heran Oddie. Belum Tamara menjawab tiba-tiba Oddie berlagak layaknya seorang hamba yang bersyukur pada Tuannya.

“Memang kemarin hamba bersama hantu Bokir, tapi terima kasih atas karuniaMu Tuhan, kini Kau memberikan Malaikat Tamara untuk merawat hamba, di balik kelambu selalu ada hikmah, amiiinn,” ucap Oddie memanjatkan syukur.

Tamara yang melihat kelakuan spontan Oddie hanya bisa tertawa. Sesuai dengan perkataan Gori, Oddie akan sangat mudah mencairkan suasana meskipun Tamara notabene bukan teman dekatnya. Tamara membantu Oddie untuk mengambil makanan dan meminum obatnya. Belum genap satu jam sesuai janji Gori, akhirnya empat sohib Oddie tiba dan langsung menuju ke kamar Oddie. Pemandangan romantis tersebut tidak luput dari pandangan mereka dan aksi ledekan Gori, Septian, Bokir dan Rubenpun terjadi.

“Mantaaaaappp soobb... Ibarat ilmu sastra nih “Habis gelap, terbitlah terang. Habis ketemu setan Bokir, sekarang ketemu malaikat Tamara,” ujar Ruben sambil berlagak menirukan sastrawan Khalil Gibran.
Mereka tertawa bersama, dan Oddie tampaknya sudah bisa menerima kehadiran Bokir. Di tengah-tengah tawa itu, Tamara hanya tersenyum dan menatap Oddie dengan pandangan lembut.

bersambung...

Selasa, 13 September 2011

Are You Lonely? (Chapter 4)

pic. by : Johansen Halim
Di zaman yang serba susah ini, mau beli apa-apa harus pakai uang. Uang didapat jika kita bekerja. Itu sudah kodrat manusia untuk bisa bertahan hidup. Oddie juga manusia yang harus bertahan hidup. Itulah sebabnya seorang Oddie Laksmono, siswa tampan dari SMA Pahlawan Bangsa, harus mencari kerja sambilan.

Siang itu, tepatnya pukul 14.00 seperti biasa Oddie pulang menggunakan motor bututnya. Selama perjalanan tiba-tiba Oddie teringat wejangan sang kakek yang sekarang tinggal di Bogor.

“Kamu itu ganteng Od. Sehat, gagah, tangguh, sama kayak almarhum Bapak kamu. Jadi jangan malu-maluin keluarga kamu ya, terutama Ibu kamu. Buat Ibu kamu bahagia,” ujar kakek di memori Oddie.

Itulah sebabnya tiap pulang sekolah Oddie langsung sibuk dengan profesinya sebagai penyiar radio di Soul FM. Kadang-kadang Bokir, Ruben, Septian dan Gori juga diajak ke Soul FM buat nemenin Oddie siaran.
Kebetulan hari itu Oddie akan siaran malam dan minta ditemani oleh keempat sohibnya.

“Gue ada urusan mendadak Od, tiba-tiba nyokap minta dianterin ke Barcelona,” ujar Gori.

Buset, nganterin nyokap ke Barcelona kayak nganterin nyokap ke Indomaret, kayaknya kalau pakai duit apa-apa jadi deket gitu. Berbeda lagi dengan Septian yang makin laris job bandnya.

“Waduh, sorry Od, ga bisa nemenin lu siaran nih, ntar siapa yang main gitar, masa kudu manggil bang Haji Rhoma Irama buat gantiin gue?” tukas Septian.

Ruben yang biasanya paling bisa kalau disuruh nemenin ke mana Oddie pergi kebetulan sekali harus mengisi pertunjukkan teater di tempat bokapnya kerja, dosen sastra di salah satu Universitas terbaik Indonesia.

“Bokir nih, gue yakin ga ada kerjaannya tuh anak,” gumam Oddie sambil menutup ponselnya yang sudah tidak beredar lagi di pasaran.

***

Pucuk di cinta, ulampun tiba. Bagaikan gayung bersambut. Bagaikan katak dalam tempurung. Ternyata Bokir memang benar-benar masuk ke dalam jutaan orang yang masih belum memiliki pekerjaan.

“Iya iya, tunggu bentar, abis gue kasih makan Eman, langsung gue ke tempat siaran lu,” ujar Bokir mengiyakan.

Eman adalah burung perkutut kesayangan Bokir. Dengan Eman, Bokir mencurahkan semua keluh kesahnya, terutama soal cintanya yang bertepuk sebelah tangan terhadap Luna. Pernah suatu hari Bokir berada pada fase sangat tergila-gila dengan Luna, dia bercakap-cakap dengan si Eman:
Bokir   : “Man, gue tau lu makhluk paling jujur di muka bumi ini dan gue percaya ama lu 100%. Benernya, Luna itu ada rasa ga sih ama gue?”
Eman   : *manggut-manggut makan kroto*
Bokir   : “Ya ya, gue salah tanya, kalau itu sudah pasti. Pertanyaannya gue ganti, kira-kira dia cinta ngga ama gue?”
Eman   : *manggut-manggut minum air*
Bokir   : “Cuma lu yang paling bener dan ngertiin gue man”

Sebagai tanda ucapan terima kasih, Bokir memonyongkan bibirnya di sangkar untuk berusaha mencium Eman. Alhasil, bibir Bokir jontor dipatok Eman. First kisspun telah terjadi.

***

SOUL FM pk 22.00

*backsound thriller*
“Let The Music Heal Your Soul, 104.8 FM. Selamat malam jiwa-jiwa yang gentayangan. Barengan Oddie dari jam 10 sampai 12 malem, Oddie bakal nemenin kalian di acara ‘Are You Lonely?’ Kisah-kisah mengerikan akan Oddie bawakan setelah satu lagu dari Astrid – Ratu Cahaya, OST Tusuk Jelangkung, Check this one out!
(disiarkan dengan nada mencekam)

“Dari dulu gue paling kagak demen suruh siaran yang beginian,” komat-kamit Oddie sambil memandangi komputer yang berisi SMS pendengar dan materi-materi cerita horror.

Oddie terpaksa harus menggantikan Jason yang menjadi penyiar tetap di program ‘Are You Lonely?’ lantaran Jason ada keperluan keluarga yang tidak bisa ditinggal.
Belum lagi, Soul FM di atas pukul sembilan malam hening tak bertuan, hanya ada Pak Kirno dan Ujang yang patroli 24 jam di lantai satu, sedangkan Oddie berada di lantai empat. Suasana semakin mencekam karena semakin banyak cerita-cerita misteri yang seperti mendekati nyata. Oddie cuma bisa minum seteguk setiap ada jeda.

Jam dinding menunjukkan pukul 11.15 malam. Bokir yang janji datang menemani Oddie siaran tidak kunjung datang. “Bokir, Bokir, Bokir, gue udah nyebutin nama lu tiga kali, dateng dong Kir,” rintih Oddie. Memang benar adanya, selain bisa memanggil mas Jelangkung mantera itu juga bisa datengin Bokir.

“Bokiiiiiirrr, akhirnyaaaaa.......!!” teriak Oddie saat menyambut Bokir yang masuk membuka pintu dengan tatapan kosong.

“Lu tau ga Kir, seumur hidup gue ngerasa butuh banget kehadiran lu ya baru kali ini,” ucap Oddie sambil ngelus-ngelus rambut Bokir.

Bokir yang biasanya paling doyan ngebales omongan resek Oddie hari itu hanya diam sejuta bahasa.

“Kir, lu kenapa? Dipatok Eman lagi bibir lu?” ledek Oddie.

Saat mendengar perkataan Oddie, kontan Bokir langsung mengubah ekspresi wajahnya. Matanya menyorot tajam ke arah Oddie. Bibirnya tertutup rapat. Aura yang dibangun begitu dingin dan menusuk hingga terasa ke tulang sum-sum Oddie.

“Iya iya, sorry, bercanda ah! Duduk dulu gih di depan gue. Bentar ya, gue on air dulu. Abis gue kasih 3 lagu, temenin gue ke pantry, gue bikinin lu kopi spesial khas Venezuela, ga pernah kan lu minum yang begituan,” sindir Oddie sambil memakai headphone yang masih tidak mendapat respon positif Bokir.

Merasa ada teman, siaran Oddie makin menjadi-jadi. Oddie jadi berani dan makin membangun suasana siaran menjadi seram. Karena terlalu seramnya, seorang pendengar yang iseng mengirimkan SMS yang berisi:

Salut banget sama Kak Oddie. Berani banget siaran horror sendirian. Pengen nanya nih Kak : Are You Lonely?

Saat membaca SMS tersebut melalui on air, Oddie hanya tersenyum kecil dan membalas pertanyaan pendengar tersebut dengan percaya diri :A black ghost in front of me,” ucap Oddie dengan nada mendesah, dihorror-horrorin. Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Oddie menutupnya dengan lagu Zombie milik The Cranbarries.

***

Tepat pukul 00.00 dini hari, siaranpun akhirnya selesai. Oddie tertawa lepas dan menarik tangan Bokir untuk ke pantry. Sambil berjalan menuju pantry, Oddie merangkul bahu Bokir dan membuatkan Kopi khas Venezuela untuk sohibnya itu.

“Thank you sob. Ngga ada lu, gue ga mungkin berkutik siaran sendirian. Tapi pendengar banyak yang suka nih. Cuma yang terakhir aja tuh, resek banget SMS-nya, hahaha, sorry ya, gue cuman bercanda,” ujar Oddie sambil membuat kopi.

Aneh bin ajaib, Bokir membalasnya hanya dengan senyuman kecil kemudian menenggak Kopi Venezuela tersebut hingga ampasnya dalam satu kali teguk.

“Haus sob? Lu ke sini marathon ato estafet? Persiapan Sea Games lu?” tanya Oddie.

“Iya, biar nambah medali emas buat Indonesia,” jawab Bokir datar dengan tatapan kosong.

“Kayaknya lu lagi ga sehat deh bro. Sorry ya gue ngrepotin lu. Lu bawa motor kan? Apa mau gue tuntun sampe rumah lu? Ntar emak lu sedih kalo lu kenapa-napa,” ucap Oddie sambil megangin kening Bokir.

“Ga usah, gue bisa sendiri kok,” jawab Bokir yang masih diikuti dengan ekspresi dan nada yang sama.

“Udah ah, yuk kita pulang. Lu malah nakut-nakutin gue aja,” ajak Oddie.

Akhirnya mereka berdua saling berpamitan di parkiran motor, dan tidak lupa memberikan ucapan selamat tinggal untuk penjaga tercinta, Pak Kirno dan Ujang. Melihat Oddie dan Bokir berjalan membelakangi mereka, mereka saling bertatapan dan mengernyitkan dahi.

***

Pagi yang cerah di SMA Pahlawan Bangsa.

“Pagiii sooobbbb....!!!” sapa Oddie kepada Septian dan Ruben. Gori? Masih nemenin maminya ke Barcelona.

“Mana nih pahlawan gue, Bokir Sitohang. Tanpa kehadirannya, siaran gue ga bakal semulus itu meennn,” puji Oddie sambil celingak-celinguk nyariin Bokir.

“Terakhir gue SMS dia kayaknya dia sakit,” kata Ruben sambil masih memegang handphonenya.

“Waahh, gue udah feeling kemarin. Ga bisa gue diemin nih, dia udah berjasa banget nemenin gue. Pulang langsung kita besuk dia gimana?” ajak Oddie yang kemudian diikuti oleh anggukan kedua sohibnya tersebut.

Sebungkus pangsit mie ayam Mbok Jijah dan jus melon berada di genggaman Oddie. Setidaknya itu adalah harga yang harus dibayar Oddie karena telah membuat Bokir terkapar demam dan masuk angin. Sesampai di depan pintu kamar Bokir, Oddie mengetuk dan memanggil Bokir dengan nada dramatis bak drama serial Korea.

“Bokir sayaaangg. Kami boleh masuk ya?” teriak Oddie dari luar pintu.

“Masuk aja. Kagak dikunci,” balas Bokir dengan suara parau.

Tanpa basa-basi lagi Bokir menyambut kedatangan mereka denga antusias. Sangat antusias lantaran buah tangan dari kawan-kawannya sesuai dengan selera Bokir. Bokir menikmati makanan tersebut seperti orang yang sudah lama tidak menjumpai makanan. Lahap dan penuh kebuasan. Dalam bayangan Bokir, ketiga sobatnya itu tidak lain bagaikan tiga orang majus yang membawakan persembahan berharga di malam Natal. Di tengah-tengah nikmatnya Bokir menyantap makanannya, dia teringat perihal dirinya yang harus menemani Oddie siaran horror.

“Oh iya, sorry ya Od gue telat ngabarin lu kalo gue kemarin sakit,” ucap Bokir sambil menikmati hidangan tersebut.

“Ga masalah kali. Gue udah ngerasa sejak lu masuk di ruangan siaran, muke lu rada demek, datar banget,” ujar Oddie sambil tertawa.

“Hah? Ruang siaran?” tanya Bokir diikuti dengan kernyitan di dahi dengan mi yang masih menggantung di bibirnya.


FLASH BACK   

Akhirnya mereka berdua saling berpamitan di parkiran motor, dan tidak lupa memberikan ucapan selamat tinggal untuk penjaga tercinta, Pak Kirno dan Ujang. Melihat Oddie dan Bokir berjalan membelakangi mereka, mereka saling bertatapan dan mengernyitkan dahi.
Kemudian Pak Kirno dengan nada heran bertanya ke Ujang:

“Memang tadi ada orang masuk ya jang? Lu liat?” heran Pak Kirno.

“Makanya ntu, kagak ada yang masuk dari tadi,” jawab Ujang sambil berlari kembali ke pos penjagaan.


BACK TO KAMAR BOKIR

“Od, Od, sadar Od, sadar, bangun Od...” teriak Septian, Ruben, dan Bokir bergantian membangunkan Oddie dari pingsannya.


Jumat, 25 Desember 2009

Status Di Facebook Luna (Chapter 3)

pic. by : Johansen Halim
Sudah rahasia umum kalau Luna adalah primadona di SMA Pahlawan Bangsa. Cantik, pinter, aktif di sekolah, tajir, gaul, dan ramah, itulah Luna. Setiap Luna dan geng-nya yang dinamai Cuwit-Cuwit lewat, semua mata tertuju pada mereka. Entah mengapa geng mereka dinamai Cuwit-Cuwit.

Menurut filosofi Bokir, Cuwit bisa berarti Sweet yang artinya manis. Cuwit-Cuwit bisa jadi adalah cara untuk memanggil geng mereka dengan siulan genit (baca : suit-suit). Bokir yang paling demen ngikutin perjalanan hidup Cuwit-Cuwit tak lelahnya mengejar info-info yang berhubungan dengan mereka.

Sampai-sampai Bokir yang baru saja punya Facebook langsung berusaha mencari Facebook Cuwit-Cuwit, terutama Luna yang sudah lama Bokir taksir. Meski sudah di-ignore berulang kali, Bokir tak pernah patah arang. Mungkin jari telunjuk Luna sudah lelah untuk menekan ignore, akhirnya Luna meng-confirm Facebook Bokir yang di profpicnya memakai foto Christian Sugiono.

“Yes!! Gotcha!!!” teriak Bokir waktu di notificationnya ada tulisan Luna Cuwit-Cuwit and Bokir Sitohang are now friends.

Semenjak Bokir menjadi teman Luna di Facebook, Bokir jadi pelanggan setia di warnet sebelah rumahnya. Padahal sebelumnya Bokir pernah mendeklarasikan kalau dia bisa hidup tanpa teknologi.

“Ngutang lagi bang?” tanya penjaga warnet saat menyambut Bokir masuk ke ruang warnet.

“Weits, menghina banget lu. Kerja sana yang bener. Gue dateng ke sini buat bayar hutang gue plus mau bikin member di warnet lu,” ujar Bokir dengan nada angkuh. Penjaga warnet seolah-olah mendapat Kejutan Britama mendengar seorang Bokir mau membuat member di warnetnya.

“Bukan buat buka situs porno kan bang? Ga boleh lho, kata nenek berbahaya,” nasihat penjaga warnet polos.

“Buset dah! Gue kepret sekalian lu, cepet bikinin, nih duitnya,” bentak Bokir sambil nyodorin duit sebesar 25 ribu Rupiah.

“Nih bang kartunya, kartu ini berlaku selama 1 minggu, bisa diperpanjang masa berlakunya dengan isi ulang minimal 10 ribu. Khusus member kagak ada sistem ngutang ya bang, hehehe,” sindir penjaga warnet.
Bokir yang semakin gerah dengan sikap resek penjaga warnet langsung masuk ke ruangannya tanpa mengucapkan terima kasih.

Tanpa pakai lama lagi Bokir langsung membuka website Facebook dan segera mencari info-info tentang Luna. Sembari membuka profil Luna, tiba-tiba ada seseorang yang mengajak chatting. Ternyata Oddie juga kebetulan sedang online di rumahnya. Berikut percakapan mereka melalui chat di Facebook :

“Kir, lu kok bisa online? Lagi dimana?”

“Di warnet sebelah rumah gue. Gue uda jadi member nih. So, gue ngga perlu lagi repot-repot minjem internet lu, hehehehe,”

“Baguslah. Komputer gue sering hang pas lu pegang.”

“Lu menghina banget Od. Eh, ini gue lagi ngamatin Facebook Luna. Status dia sekarang lagi jalan-jalan ama Cuwit-Cuwit di Blok M, gue comment deh, hehehehe.”

“Tapi jangan norak-norak comment lu, tar ketahuan banget kalau lu terlalu caper ma dia.”

“Gue cuman comment : ‘Selamat bersenang-senang Luna, bang Bokir lagi di warnet ajah nih’”

“Kalau gue jadi Luna uda gue delete comment lu, hehehehe”

“Udah ah, gara-gara chatting ama lu gue jadi ngga konsen memantau bidadari gue, bye-bye sobat”

Bokir langsung melanjutkan kegiatan utamanya, yakni mengamati Luna melalui Facebooknya sambil sesekali Bokir memberikan comment di beberapa status Luna yang berjibun. Luna salah seorang pengguna BlackBerry, jadi ngga kaget kalau Luna sering banget update status. Tiba-tiba Bokir shock berat saat melihat relationship status Luna berubah di home page Bokir : Luna Cuwit-Cuwit from single is now in a relationship.

* * *
Keesokan harinya di kelas, Bokir murung melulu. Oddie yang duduk si sebelah Bokir jadi merasa harinya semakin suram. Saat istirahat, Bokir yang biasanya semangat menuju kantin sama sekali tidak beranjak dari tempat duduknya.

“Kir, muka lu rada demek hari ini, napa?” tanya Oddie.

“Bro, nih membernya buat lu. Gue uda ga nafsu lagi buka Facebook,” ujar Bokir sembari memberikan kartu membernya ke Oddie.

“Emang kenapa Kir? Bukannya lu kemarin semangat banget?” heran Oddie sambil tetep menerima kartu member Bokir.

“Luna uda punya pacar Od!!!” rengek Bokir.

“Kok lu tau? Memang lu liat sendiri?” tanya Oddie. Bokir yang hari itu bener-bener malas untuk ngomong cuman bisa geleng-geleng kayak orang tripping.

“Hmm. Jadi lu kemarin liat di relationship status dia yang berubah jadi in a relationship?”
Bokir yang tadi geleng-geleng, sekarang ngangguk-ngangguk. Oddie yang merasa iba bener-bener ngga tega melihat sohibnya patah hati.

“Kir, kita harus nyelidikin terlebih dahulu kebenaran relationship status Luna. Masa lu mau langsung percaya kalau ngga liat pake mata kepala lu sendiri?” nasihat Oddie bak Pangeran Cinta.

“Iya, terus rencana apa lagi yang ada di pikiran lu?” tanya Bokir pasrah. Oddie tersenyum bak iblis yang ingin menjebloskan manusia ke dalam limbah dosa.

“Kita jadi Paparazzi,” bisik Oddie.

* * * 

Semenjak ide menjadi Paparazzi itu, Oddie dan Bokir jadi sering ngamatin Facebook Luna.

“Buset, statusnya kenceng banget, per-jam selalu update,” celetuk Oddie. Tapi ada satu status Luna yang menyedot perhatian mereka. ‘Luna Cuwit Cuwit ketemuan dengan si dia di Pizza Hut jam 5 sore. Jadi ngga sabar. Syalalalala.’

“Wah, ini Kir. Ini nih yang perlu kita selidikin, sekarang jam berapa?” tanya Oddie.

“Jam setengah lima Od! Buruan kita berangkat sekarang, takut mereka keburu pergi!”

Mereka berdua berkemas-kemas dengan cepat dan segera menuju ke Pizza Hut di salah satu Mall Jakarta.
Selama perjalanan, Bokir yang paling ngga sabaran memburu-buru Oddie untuk mempercepat kecepatan motornya.

“Bentar. Lu kan tahu kalau motor gue mentok cuman ampe gigi 2. Mana ini macet lagi,” bentak Oddie.
Muka Bokir yang kelihatan makin resah sesekali melihat jam tangannya.

“Jam 5 lewat nih Od, moga aja dia ngga keburu pergi,” harap Bokir.

Tepat pukul 17.17 mereka sampai di Mall. Mereka langsung menuju Pizza Hut dan langsung duduk di salah satu spot yang sedapat mungkin tidak akan terlihat oleh Luna. Oddie yang langsung inisiatif melihat status Facebook Luna melalui handphonenya membawa berita segar di telinga Bokir.

“Tenang Kir, ternyata dia masih belum nyampe. Masih di jalan, nih statusnya : ‘Aduh, macet nih, takut telat, semoga si dia bakal sabar’” ujar Oddie.

Merasa ngga akan lama, mereka berdua di Pizza Hut hanya memesan Garlic Bread dan Ice Lemon Tea. Menunggu dan menunggu. Selama 1 setengah jam mereka menunggu Luna tak kunjung menampakkan batang hidungnya.

“Lu yakin Od dia masih di jalan? Coba liatin lagi statusnya,” pinta Bokir.

“Dia kagak ngeganti statusnya, lagi nyari parkir mungkin,” prediksi Oddie.

Semakin resah. Di samping keresahannya mereka dikejutkan oleh waiter Pizza Hut yang nganterin mereka Chicken Wings.

“Silakan, kalau ada yang dipesan bisa order lagi melalui saya, Aris,” jelas waiter Pizza Hut tersebut.

“Lho lho mas mas, kita ngga pesan apa-apa mas. Kita cuma pesan Garlic Bread ama Ice Lemon Tea ini aja,” bantah Oddie.

“Maaf mas, tapi ini memang benar-benar order yang berasal dari meja mas,” kata waiter tersebut. Merasa masih ada duit, mereka akhirnya menerima kejutan sayap ayam itu.

“Baik, American Favorite largenya untuk dibawa pulang ditunggu 10 menit lagi, terima kasih,” ujar waiter tersebut langsung meninggalkan Oddie dan Bokir.

“Lho lho mas mas, kita ngga pesan Pizzanya mas!” teriak Bokir.

Oddie dan Bokir makin dibuat resah. Uang yang mereka bawa hanya 50 ribu Rupiah. Itupun sudah termasuk uang recehan Bokir yang diselipin di tas bututnya. Mereka benar-benar sudah menunggu lama dan merasa ada yang salah. Belum lagi mereka dibingungkan dengan “kejutan” yang mereka peroleh dari waiter tersebut.

“Od, gawat, ini kita bayar pakai apaan?” tanya Bokir. Sebelum Oddie menjawab, waiter tersebut mengantar Pizza ukuran large ke meja mereka.

“Ini American Favorite largenya, terima kasih,” ujar waiter ramah.

“Mas, saya benar-benar ngga pesan ini Pizza. Jadi saya ngga mau bayar ini Pizza. Titik,” ujar Oddie.
Waiter tersebut hanya tersenyum dan berkata :

“Semua yang Anda pesan sudah dibayar oleh wanita yang diujung sana,” tunjuk waiter tersebut mengarah ke Luna dan geng-nya yang sedang tertawa melihat tingkah mereka. Oddie dan Bokir jadi salah tingkah. Luna kemudian menghampiri meja mereka.

“Cowook, sudah lama nunggunya?” sindir Luna.

“Ehem, emm, sebenernya….emm, kapan kalian tadi masuknya? Kok ngga keliahatan?” ujar Bokir terbata-bata.

“Hahahaha, Kir, Kir. Makanya jangan pacaran mulu ama Oddie, jadinya meleng kan, orang gue ama temen-temen uda dari tadi di dalem, cuman tadi emang sih kita lewat pintu belakang biar ga keliatan kalian, hahahaha. Udah, bawa sana tuh Pizza. Gue ngga ketemu siapa-siapa kok. Gue mau hangout ama temen-temen gue, daaaa,” pamit Luna yang kemudian diikutin geng-nya.

Oddie dan Bokir terduduk sejenak. Menahan rasa malu. Setelah beberapa menit, Oddie membuka Facebook Luna dan mendapati status Luna yang kembali single. Yang lebih mengejutkan lagi, dalam update status Luna yang terbaru berisi : ‘Senangnya bisa ngerjain dua cowok polos, maaf ya Oddie, Bokir, jangan lupa dimakan ya pizzanya.’

bersambung...

Selasa, 22 Desember 2009

HARI (L)IBU(R) (Chapter 2)

pic. by : Johansen Halim
Setelah seharian penuh menuntut ilmu, kelas akan segera diakhiri. Seperti biasanya, di sekolah Oddie sebelum siswa pulang akan diberi pengumuman secara massal melalui sentral info. Pak Fernando, pria blasteran Belanda-Cikampek selaku kepala sekolah mengumumkan sesuatu yang membuat sekolah menjadi heboh.

“Anak-anak, mulai besok, tanggal 22 Desember, kegiatan sekolah ditiadakan sampai tanggal 11 Januari. Intinya, kalian diperbolehkan untuk berlibur. Tapi jangan lupa, tanggal 11 Januari masuk lagi. Selamat berlibur, Selamat Natal bagi yang merayakan, dan Selamat Tahun Baru!” kata Pak Fernando. Bokir yang pada dasarnya paling malas masuk sekolah langsung berteriak di antara gemuruh euforia teman-temannya,

“Pak Fernando!! I Love You Full!!”

Oddie yang pada hari itu tumben-tumbennya ngga menunggu sohib-sohibnya langsung berpamitan dan menyambar sepeda motor bututnya yang diparkir di depan pos Satpam Pak Yusron.

“Pak Yus, pulang dulu ya Pak. Ini sedikit camilan buat Pak Yus jaga nanti malam,” pamit Oddie sembari memberikan kue gabin 3 bungkus, ada yang gurih dan asin. Pak Yusron yang baru kemarin lusa diberi gabin oleh Oddie menerima dengan lapang dada.

“Terima Kasih nak Oddie gabinnya. Besok-besok Khong Ghuan aja ya biar rasanya ga monoton,” sindir Pak Yusron.

Oddie tersenyum polos dan memasukkan gigi 1 sepeda motornya. Ternyata hari ini Oddie harus buru-buru karena ingin membeli sesuatu buat Maminya. Oddie langsung menuju ke toko elektronik di dekat sekolahnya. Oddie yang 3 hari lalu mendapat Tunjangan Hari Raya dari Soul FM dimana tempatnya menjadi penyiar langsung berencana untuk membelikan Maminya sebuah mixer. Oddie mendapat ide untuk membelikan mixer tambahan karena melihat orderan maminya yang dari hari ke hari makin lancar bak sungai Bengawan Solo.

* * *

Sesampai di rumah, Oddie disambut tak hangat oleh si adik. Dengan mata penuh penghakiman dan membawa saringan santan, Mimi bertanya dengan nada tegas,

“Wahai Oddie Laksmono, mengapa Saudara pada pagi hari tadi meninggalkan Mirah Laksmono yang sedang tertidur pulas tanpa membangunkannya terlebih dahulu?” Oddie yang merasa bersalah langsung mengeluarkan poster Jacob Black ukuran A5 dari tasnya yang digulung rapi.

“Hamba meminta maaf karena hamba terburu-buru, ini kupersembahkan pada Saudari Mirah Laksmono sebagai wujud permintaan maaf hamba,” ujar Oddie sembari memberikan poster tersebut pada Mimi. Akhirnya pertunjukan teater dadakan itu berubah jadi srimulat. Mimi tertawa riang ketika melihat gambar dalam gulungan itu adalah poster Jacob Black. Pertunjukan teater itu berlanjut lagi,

“Baiklah, Mirah Laksmono memberikan ampun pada Oddie Laksmono. Kembali ke tempat dan habitat Anda!” perintah Mimi. Oddie hanya tersenyum melihat tingkah adiknya yang memang belakangan demen banget dengan Jacob Black, salah satu karakter dalam serial Twilight.

Oddie yang memang sengaja menghindari Maminya langsung masuk ke kamar karena ingin menyembunyikan mixer itu sampai besok tiba waktunya untuk diberikan. Oddie lekas mengganti bajunya dan segera keluar ruangan agar Maminya tidak masuk ke kamarnya. Sebelum keluar ruangan, Oddie menyembunyikan hadiah mixer tersebut di dalam lemarinya. Setelah semuanya berjalan lancar, Oddie keluar ruangan dan bersiap menyantap makan siang. Semur Ayam jengkol yang notabene makanan favorit Oddie memang sengaja disediakan Mami Oddie sebagai makan siang untuk anak-anaknya.

“Wah, makanan favorit nih. Mari makan!” ujar Oddie sambil mengaduk ceker ayam yang ada di dalam panci berisi semur ayam jengkol itu.

* * *

Keesokan harinya, tepat pada tanggal 22 Desember, Oddie bangun pagi-pagi sekali. Suatu keajaiban Oddie bisa bangun pagi-pagi di saat sekolah libur. Dia langsung mengunci kamarnya dan mulai mengeluarkan kartu ucapan dan kertas kado yang sudah dibelinya di toko buku kemarin. Itulah mengapa Oddie saat pulang ke rumah bisa membawa poster Jacob Black untuk Mimi. Setelah dibungkus dengan ala kadarnya, Oddie mengintip dari jendela kamarnya untuk melihat situasi di luar kamarnya. Mami Oddie sudah bangun dan mulai mengeluarkan bahan-bahan untuk membuat kuenya. Mami Oddie yang merasa tubuhnya mengeluarkan aroma-aroma kurang sedap langsung menuju kamar mandinya.

Oddie yang terus memantau situasi dari dalam jendela kamarnya mendengar Maminya menyanyikan lagu tenda biru dengan kunci G minor. Itu menandakan Mami Oddie sedang mandi karena Mami Oddie memiliki kebiasaan mandi sambil menyanyi. Dapur kosong, Oddie langsung keluar dari kamarnya dan meletakkan kado mixer itu di atas meja makan. Setelah meletakkan kado itu, Oddie berlari kembali ke kamarnya dan berpura-pura tidur.

Mami Oddie yang mulai kehabisan suara, akhirnya keluar dari kamar mandi. Mata lentik Mami Oddie langsung tertuju pada sebuah kotak yang dibungkus dengan warna-warni bak dunia Avatar. Segera Mami Oddie membuka kado tersebut, begitu terkejutnya Mami Oddie ketika melihat sebuah Mixer baru di depan matanya. Di balik kotak tersebut terdapat kartu ucapan yang menempel dan berisikan kata-kata :

“Mamiku sayang, Oddie dan adek sering banget ya nyusahin Mami. Mami kok ngga pernah ya nyusahin kami? Maafin kami ya Mi. Kami ngga bisa membalas apa-apa buat Mami. Mami terlalu hebat untuk kami. Selamat Hari Ibu ya, Mi. Lho, Mami jangan nangis, kalau mixernya kena air mata Mami nanti konslet lho. Oddie dan Adek selamanya akan sayang Mami. Selamanya. Sampai Selamanya.”

Saat membaca kartu ucapan itu, sontak Mami Oddie mengangis terharu.

“Dasar anak-anak,” isak Mami Oddie sambil tersenyum haru. Mami Oddie langsung menuju kamar Mimi dan melihat anak centilnya ini sedang tertidur pulas.

“Mami sayang adek,” ucap Mami Oddie sambil mencium kening Mimi. Tiba-tiba Mimi dalam igauannya berkata-kata dan tersenyum kecil,

“Thanks Jacob for Your kiss, I Love U So Much.” Mami Oddie hanya tersenyum melihat tingkah anak bungsunya. Setelah itu Mami Oddie menuju kamar Oddie dan mendapati Oddie sedang dibungkus oleh bed covernya.

“Od, Mami tahu kamu pura-pura tidur. Mami cuma pengen ngomong, kalian harta Mami yang paling berharga. Mami ngga akan bisa jadi Mami yang hebat kalau tanpa kalian. Terima Kasih ya Od,” kata Mami Oddie. Oddie yang masih berpura-pura tidur berusaha menahan air matanya. Merasa tidak tahan akhirnya Oddie bangun dan mengatakan sesuatu pada Maminya,

“Mami, Oddie sayang Mami.” Mereka berpelukan sejenak. Kemudian dilanjutkan dengan canda tawa yang selalu menghiasi hari-hari mereka.

“Ayo kamu yang masangin mixer barunya, Mami takut kesetrum, tadi sempet ketetesan air mata Mami,” canda Mami Oddie. Merekapun tertawa bersama kicauan burung-burung di pagi yang cerah itu.

* * *

Bokir yang memang paling demen bangun siang dikejutkan oleh kedatangan 4 sohibnya.

“Bangun, bangun!! Dian Sastro ada di ruang tamu lu Kir!!” mendengar teriakan itu Bokir langsung terbangun dan menuju ruang tamu.

“Wah, Lu pada ngibulin gue nih. Bikin orang tidir kagak nyaman aja lu pada,” sewot Bokir. Oddie, Ruben, Septian dan Gori cuma bisa tertawa terpingkal-pingkal melihat kepolosan wajah Bokir. Dengan nada yang agak sewot, Bokir bertanya apa maksud kehadiran mereka,

“Emang ada acara apaan sih kalian dateng pagi-pagi gini? Ini kan hari libur saudara-saudaraku yang terkasih” Septian yang merasa aneh dengan kata-kata Bokir langsung memblokir omongan Bokir,

“Pagi-pagi? Emang lu pake jam Arab? Ini uda jam 1 siang kale!” Oddie yang kemarin sempat membuat rencana bersama Ruben, Septian, dan Gori ngga pakai lama langsung mengutarakan rencananya untuk Bokir.

“Kir, kami tahu lu jauh dari yang namanya ganteng, tapi kita pada yakin kok kalau emak lu nganggep lu itu orang yang paling ganteng yang pernah emak lu temuin,” ujar Oddie.

“Gitu ya, oke2, terus apa rencana kalian?” tanya Bokir.

“Kita bakal nyenengin emak lu dengan ngedatengin Bokir Sitohang,” ujar Oddie. Bokir yang mendengar ide Oddie hanya bisa diam tanpa kata.

Kamar Bokir yang bau terasi itu disulap menjadi salon dadakan oleh Oddie, Ruben, Septian dan Gori. Gori yang notabene banyak duit memfasilitasi Bokir dengan setelan jas merek Armani, parfum Dolce & Gabana, Gel Gatsby, dan sepatu van touvel. Ruben yang merupakan anak dari sastrawan membuatkan sebuah puisi tentang hari ibu. Septian yang memang punya band dan jago maen alat musik bersedia untuk mendampingi Bokir membacakan puisi dengan petikan alunan gitar.

Setelah semuanya beres, Bokir ditarik keluar oleh empat sohibnya. Emak Bokir yang kebetulan lagi pergi ke pasar masih belum pulang. Sembari menunggu emaknya Bokir pulang, mereka membuat setting di ruang tamu rumah seolah-olah itu adalah acara Take Me Out yang dibawakan oleh Choky Sitohang. Ketika emak Bokir sudah sampai di rumah dan mulai membuka pintu tiba-tiba dikejutkan oleh penampilan Bokir Sitohang bak MC kondang dengan satu set panggung lengkap.

“Untuk Emak. Emak, dari rahim sucimu aku lahir. Engkau mengidolakan Choky Sitohang. Tapi, tanpa kau sadari emak bahwa 17 tahun yang lalu engkau telah melahirkan Bokir Sitohang. Ketampananku memang 7-12 dengan Choky Sitohang, tapi percayalah emak, engkau mendapatkan cinta yang tulus bukan dari Choky Sitohang, tetapi dari anakmu, Bokir Sitohang. I Love You Full Emak.”

Setelah membaca puisi tersebut dengan gaya MC Choky Sitohang, emak Bokir tersenyum dan berkata,

“Le le, iso ae awak peno (nak, nak, bisa saja kamu).” Mereka tertawa bersama dan menyanyikan lagu Bunda milik Melly Goeslaw bersama-sama.


bersambung..

Salam Kenal, Namaku Oddie (Chapter 1)

pic. by : Johansen Halim
Waktu tepat menunjukkan pukul 06.30. Sinar mentari menembus tiap sudut jendela. Ayampun tiada lelah untuk berkokok sepanjang pagi. Benar-benar suasana pagi yang menyejukkan jiwa. Terdengar suara parau yang merusak keindahan Yang Maha Esa dari kamar Oddie, seorang remaja yang duduk di kelas 2 SMA.

“Mampus dah, gue telat lagi!!” teriak Oddie.

“Mami, roti bakarnya masukin ke kotak makan aja ya mi!” teriak Oddie sambil menyambar handuk dari jemuran di balkon rumahnya.

“Mami juga kesiangan nih,” bales mami Oddie sambil memasang rol rambut di kepalanya. Di saat Oddie dan maminya kalang kabut bak operasi PKL, Mimi, adik Oddie satu-satunya yang baru kelas 2 SMP justru tidur pulas tanpa memikirkan masa depannya. Sambil sesekali di tidurnya Mimi malah ngigau hal-hal yang ngga penting.

“Gila Jacob Black, body lu bener-bener kayak martabak telor, pengen gue gigit nih!!”

Oddie yang biasanya berangkat ke sekolah bareng Mimi sudah tidak ingat lagi dengan nasib adiknya. Oddie langsung nyamber kotak makan berisi roti bakar yang sudah disiapkan maminya. Mami Oddie memang paling jago bikin kue-kue dan roti. Gimana ngga jago, memang kerjaan Mami Oddie jualan kue-kue kering.

“Dah mi,” ucap Oddie sambil cipika-cipiki sama maminya di atas sepeda motor bututnya. Mami Oddie yang sama sekali ngga kerasa apa-apa ikhlasin kepergian anak sulungnya tanpa teringat bahwa beliau juga punya anak bungsu yang centil.

“Oddie!! Tunggu bentar!! Mimi belum kamu ajak!!” teriak mami Oddie setelah tersadar dari lamunannya. Mami Oddie cuma bisa geleng-geleng kepala.

* * * *

Teng Teng Teng Teng. Lonceng di sekolah Oddie sudah berbunyi empat kali. Empat kali menandakan gerbang sekolah harus segera ditutup. Hanya terpaut beberapa detik akhirnya Oddie berhasil memasukkan tubuhnya ke dalam gerbang sekolah, tetapi tidak dengan motor bututnya.

“Finally! Gue ga telat! Gue ga telat Pak Yusron!!” teriak Oddie bangga sambil menggoncang-goncangkan badan Pak Yusron, seorang satpam yang sudah berusia 55 tahun tapi masih punya badan yang six pack bak Ade Rai. Pak Yusron yang bawaannya sering ngomel-ngomel ke Oddie tiap pagi melanjutkan rutinitasnya,

“Terus motor situ Bapak yang masukin lagi??” tanya Pak Yusron ketus.

“Hehehe. Tolong ya Pak. Bapak masa tega ngeliat anak kesayangan Bapak ini ga ikut ujian? Ngga kan Pak. Tenang Pak, jasa Bapak akan saya kenang sepanjang masa,” rayu Oddie sambil mengedipkan matanya ke Pak Yusron. Pak Yusron yang sudah mendapat kedipan mata Oddie tiap hari berasa pengen nampar Oddie. Kontan Pak Yusron mau ngga mau memasukkan motor Oddie.

“Dasar bocah jaman saiki, wong tuwo digawe dulinan,” gumam Pak Yusron.

Oddie yang hari ini seharusnya ujian Matematika sama sekali tidak belajar kemarin. Bagaimana bisa belajar, seharian penuh kemarin Oddie. Mimi, dan Mami Oddie membantu keluarga jauhnya untuk acara sunatan sampai jam 1 dini hari. Itulah sebab musabab Oddie dan seisi rumahnya bangun kesiangan.

“Lu udah belajar Od?” tanya Bokir, salah satu sahabat Oddie yang kebetulan juga satu bangku dengan Oddie. Oddie tersenyum melas sambil menggelengkan kepalanya di hadapan Bokir.

“Ngga Kir, sama sekali ngga.” Bokir yang merasa dirinya menemukan orang yang senasib, langsung tersenyum bengis.

“Nyiehehehe. Sama,” ujar Bokir sambil hendak mengajak Oddie untuk toss karena merasa senasib dan sepenanggungan.

“Tapi kemaren lusa kan gue uda belajar kelompok di rumah Luna yang cantik abis itu barengan ama temen-temen se-gengnya,” ujar Oddie yang seolah-olah kata-kata itu tamparan keras di pipi Bokir.

“Buset dah Od. Lu begitu banget. Kenapa lu kagak ngajakin gue? Kapan lagi bisa belajar bareng cewek-cewek cakep?” tanya Bokir.

“Wah sorry bro, entah kenapa waktu itu kok gue lupa ya kalo lu ternyata ga bisa Matematika. Gue pikir lu kan uda jago,” ledek Oddie sambil mempersiapkan alat-alat tulis untuk ujian.

“Kambing Lu Od! Udah tau Matematika gue ga pernah tembus angka 60 juga!” sentak Bokir. Ujianpun dimulai, Ibu Guru menginstruksikan murid-muridnya untuk mengeluarkan alat-alat penunjang ujian antara lain busur derajat, jangka, kalkulator, dan penggaris panjang. Bagaimana dengan Bokir? Beliau hanya membawa jangka tanpa pensil.

* * * *

Di saat sang kakak sedang mengerjakan ujian dengan kusyuknya, Mimi, sang adik baru terbangun dari tidurnya. Bak putri tidur yang terbangun karena ciuman pangeran Jacob Black, iler Mimi menyebar kemana-mana di sekitar pipinya. Mimi yang langsung melihat jam dinding di kamarnya terkejut.

“What??? Seven Ei-Em?? Oh My Gosh?? Jacob!! Help Me!! Mami, kok adek ga dibangunin sih?” teriak Mimi sambil bersihin ilernya. Mami Oddie yang lagi ngadukin telur pake mixer cuma bilang, “Mami tadi juga kesiangan dek.” Lebih terkejut lagi ketika Mimi keluar ke teras rumahnya dan mendapati motor butut kakaknya juga tiada.

“Kak Oddie nih juga, Mimi malah ditinggal,” kesel Mimi. Mami Oddie yang hari ini kebetulan banyak orderan karena mendekati hari Natal dan Tahun Baru merasa mendapat “pegawai dadakan.” Tanpa basa-basi Mami Oddie langsung meminta bantuan Mimi yang hari ini pasti nganggur abis di rumah.

”Nah dek, adek kan udah ngga mungkin masuk sekolah hari ini. Kebetulan nih orderan Mami lagi banyak. Bantuin Mami aja ya. Itung-itung kan kamu bolos ngga sia-sia,” kelit Mami Oddie. Mimi yang merasa emang lagi nganggur abis akhirnya menuruti Maminya.

* * * *

Di kantin sekolah Oddie yang mulai ramai dengan siswa-siswa berseragam putih abu-abu yang lagi istirahat, tampak Oddie bersama keempat sohibnya, Bokir, Ruben, Gregorius a.k.a Gori, dan Septian.

“Bro, besok kan Hari Ibu nih, Lu pada mau ngasih apa ke nyokap lu?” keempat teman Oddie langsung pada mikir. Bokir yang paling keliatan kelaperan sama sekali tidak menunjukkan indikasi bahwa dia sedang berpikir, melainkan sedang melahap pangsit mie yang dibelinya dengan kas bon di kantin Mbok Jijah.

“Mungkin gue kasih kalung kali ya, kasihan, kalung nyokap yang kemarin sempet digadaiin gara-gara buat bayar uang sekolah gue. Sudah lama sih, tapi sampai sekarang belum ditebus. Kebetulan gue ada tabungan dari penghasilan gue nge-band kemarin,” ujar Septian. Tiba-tiba ada perkataan yang paling menyedot perhatian lima sekawan ini,

“Kasihan nyokap gue, terakhir ke Jerman tahun lalu, kayaknya gue bakal ngasih tiket ke Jerman deh biar nyokap bisa liburan sambil shopping,” ujar Gori polos. Bokir yang merasa pangsit mie-nya menjadi hambar setelah mendengar kata-kata Gori langsung nyolot,

“Nyokap Lu kan udah pernah ke Jerman, sekarang kasih nyokap lu tiket ke Afrika Selatan sono biar nyokap Lu ikut Piala Dunia sekalian.” Merasa disindir, Gori hanya tersenyum polos. Maklum, Gori anak orang kaya. Ayahnya pengusaha sukses dan punya cabang perusahaan di 14 negara, termasuk Mozambique dan sekitarnya. Ruben yang lahir dari keluarga biasa-biasa saja memang bukan orang yang luar biasa.

“Gue ngga tahu mesti kasih apa ke nyokap. Nyokap hobinya dengerin musik klasik sama pidato-pidato tokoh terkenal. Orangnya sastra banget lagi. Ada saran guys?” tanya Ruben. Bokir yang masih makan pangsit mie untuk piring keduanya langsung mengutarakan sarannya,

“Kasih aja nyokap lu puisi. Orang sastra paling demen kalau dikasih puisi-puisi gitu. Makin rumit bahasa lu, makin dalem maknanya.” Ketiga temennya yang mendengar saran Bokir ngangguk-nggangguk kayak rocker sakaw. Ruben yang merasa mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak langsung mengambil secarik kertas untuk mulai bikin puisi. Gori yang tadi merasa diprotes keras bak demonstrasi untuk Keadilan Prita menanyakan topik mereka ke Bokir.

“Lu sendiri bakal ngasih apa ke emak lu Kir?” tanya Gori.

“Emak gue paling demen sama Choky Sitohang. Nah, yang gue bingung, gue kudu ngapain ya buat nyenengin emak gue? Kalau bisa sih yang ada hubungannya sama Choky Sitohang gitu, ngundang Choky Sitohang ke rumah gue? Gila aja,” tanya Bokir sambil monyong-monyong ke arah Oddie, Ruben, Septian dan Gori. Oddie yang memang punya kecerdasan dan keisengan yang berlebih dibandingkan keempat sohibnya langsung mengajak Ruben, Gori, Septian untuk berunding sesuatu tentang Bokir.

“Woi!! Ngomongin apa sih kalian? Pengen tau nih!” ujar Bokir sambil berusaha mencuri dengar hasil rundingan mereka.

“Udah minggir sono, bau nafas lu aroma pangsit mie. Pake ngutang lagi, dobel dah bau nafas lu.” Ledek Oddie sambil melanjutkan perundingannya dengan Ruben, Septian, dan Gori.


bersambung…