Tampilkan postingan dengan label Komedi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komedi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 November 2011

Kado dari Wanita dan Gadis (Chapter 14)


pic. by : Johansen Halim
"Mimiii... Oddiiieee!!!" teriak mami sore itu ketika pulang dari arisan ibu-ibu PKK.

Oddie dan Mimi yang lagi asyik rebutan menonton acara di TV itu sontak terperanjat bak pedagang PKL yang diteriaki Kamtib. Tanpa melepas sepatunya dan masih banyak perhiasan menggelantungi tubuhnya, mami meluncur ke ruang keluarga tempat Oddie dan Mimi bergulat untuk memerebutkan sebuah channel televisi.

"Kalian sekarang cepet ganti baju. Kita belanja di mall. Kita beli baju-baju baru," ajak mami tanpa menjelaskan duduk perkaranya.

Oddie yang dasarnya ngga terlalu doyan belanja keheranan melihat perintah maminya. Berbeda dengan Mimi yang sudah terbang ke kamarnya untuk ganti baju. Begitu ajakan ke Mall meluncur dari bibir maminya, Mimi bergerak sangat cepat dan tepat.

"Udah, nanyanya nanti aja. Cepet ganti baju. Nanti mami ceritain di Mall, sekalian makan malem di sana. Kayak adik kamu tuh, sekali diomongin langsung jalan," kata mami saat ditanyai Oddie.

"Yey, terang aja cepet. Tuh bocah doyannya nge-mall," elak Oddie sembari berjalan gontai menuju kamarnya.

“Kak Oddie ga pengen ikut kali ma, udah tinggal aja,” teriak Mimi dari kamar yang masih ngga puas beradu dengan kakak satu-satunya itu.

Mau tidak mau Oddie harus ikut ke Mall bareng mami dan adiknya. Bak mendapat bocoran jawaban UNAS, Oddie sedikit bersemangat karena tahu bahwa apa yang akan diomongkan mami berkaitan erat dengan Mr.Robert.

Persiapan sudah lengkap, Oddie dandan dengan kerennya, mami dengan anggunnya, dan Mimi dengan sedikit menornya. Memakai lipstik merah terang, Mimi yakin kalau dandanannya sudah ngga jauh beda sama aktris-aktris Korea yang lagi digandrunginya sekarang. Mereka meluncur ke Mall dengan sukacita tiada tara menggunakan Taxi berwarna biru dongker.

***

Kalau sudah menginjak mall, Mimi berasa jadi tour guide. Tahu semua spot yang dicari mami dan Oddie. Sengaja mami tidak memberi tahu Oddie dan Mimi selama mereka berbelanja keperluan yang dibutuhkan. Dibutuhkan untuk apa? Itu yang menjadi pertanyaan Oddie. Tapi Oddie sudah sedikit menerka-nerka. Bila memang ada sangkut pautnya dengan Mr.Robert, apa kita akan pergi ke tempat Mr.Robert? London? Inggris? Eropa? Hahahaha... Oddie tertawa dalam hati. Sedikit meremehkan prasangkanya.

“Emangnya ke Inggris segampang itu? Hihihihi...” pekik Oddie dalam pikirannya.

Oddie melanjutkan memilih beberapa baju yang keren menurutnya. Sampai akhirnya di tangan kanan kiri mereka semua sudah dipenuhi kantongan plastik dan kardus berisi pakaian baru. Tiba waktunya mereka untuk singgah ke salah satu resto cepat saji favorit Oddie.

Meskipun makanan sudah ada di depan Mimi dan Oddie, mereka enggan untuk makan sebelum tahu apa maksud mami mengajak mereka berbelanja habis-habisan.

“Mi, kita udah belanja kurang dari sejam dan habisin segini banyak duit untuk baju-baju baru.  Sebenernya buat apa sih mi?” tanya Mimi sambil mulai mencomot kentang goreng di atas mejanya.

Mami tersenyum dan melirik cepat ke arah Oddie dan Mimi secara bergantian. Mendadak mami mencondongkan kepalanya ke depan mendekati Oddie dan Mimi. Oddie dan Mimi yang melihat tingkah mami jadi ikutan mencondongkan kepalanya ke depan.

Sempat hening beberapa detik, mami benar-benar menikmatii situasi itu dengan senyum-senyum kecil. Oddie dan Mimi melongo tidak paham dengan senyum mami yang mulai melebar ke kanan dan ke kiri. Setelah puas melihat wajah bloon kedua anaknya, mami memecahkan keheningan dengan teriakan lembutnya.

“Mami punya kado spesial banget buat kalian. Hmmm...hehehehehehe....Od............Mi............... Kita......akan.......pergi.......ke..........London!! London!!” teriak mami yang ngga memedulikan orang-orang di sekitarnya.

Heboh itu disusul teriakan kedua anaknya yang girang bukan kepalang. Mereka berdiri dari kursi duduk mereka dan menari berbagai tarian, mulai dari tari piring yang dilakoni mami, sampai tari Jaipong yang dilakoni Oddie dan Mimi.

Kehebohan itu sontak berhenti ketika semua mata tertuju pada mereka.

“Beneran mi?? Gimana ceritanya?? Wah, bener-bener kado yang surprais banget miiii!” tanya Oddie sambil menatap lurus mata maminya dengan antusias.

“Jadi begini. Mr.Robert tadi telepon mami waktu selesai arisan. Tiba-tiba dia minta libur natal dan tahun baru kita rayain di London. Itung-itung buat kado natal katanya,” cerita mami dengan antusias.

“Wow, papi baik banget!!!” ceplos Mimi yang diikuti injakan kaki Oddie ke kaki Mimi.

“Auuuwwww!!! Uuhhh...cakiittt...ii...ihh... apaan sih Kak Oddie, keceplosan juga,” respon Mimi sembari kembali mencomot kentang gorengnya.

Mendengar celetukan Mimi tadi, mami Oddie cuma bisa tersenyum dan tidak berani membahas topik itu. Terlalu jauh untuk dibicarakan saat ini. Oddie dan Mimi kembali makan dengan lahap. Lahap karena memang lapar, atau suasana hati sedang girang, sama saja.

Yang jelas, orang yang paling menikmati pemandangan wajah kedua bocah itu adalah mami. Mami senang setidaknya kedua anaknya meresponi kebaikan Mr.Robert tanpa berpikir yang macam-macam. Sembari melahap makanan yang sudah hampir tuntas diselesaikan Oddie dan Mimi, mami mengalihka topik dengan menginstruksikan beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum mereka terbang ke Negeri Monarki itu. 

“Jadi, setidaknya kita punya persiapan dua minggu untuk ke sana. Gini-gini kita masih punya paspor. Untung belum angus. Lebih untung lagi kita nurutin saran Om Kevin,” tutur mami membanggakan adiknya yang tinggal di Australia itu.

“Jangan lupa bilang terima kasih sama Mr.Robert buat kado natal dan tahun barunya. Mami mau kalian di London memakai baju yang bagus-bagus tadi, karena kita akan diajak ke sebuah pesta. Entah pesta apa yang Mr.Robert maksud,” jelas mami sambil melanjutkan melahap makanannya.

“Jangan-jangaaaaaan........Pesta pernikahan mami ama Mr.Robert....” celetuk Mimi bak Siswa SD menebak pertanyaan Kuis Cerdas Cermat.

Injakan Oddie kali ini lebih ngga tanggung-tanggung ke kaki Mimi. Udah diinjak, bonus cubitan di betis pula. Bibir Oddie runcing bak rautan pensil 2B sambil menatap adiknya yang selalu iseng itu.

“Kaaaaakkkk....Nyerriiiiiiii.....Uhh....” teriak Mimi sambil memukul lengan Oddie.

Meskipun mami terlihat cuek dengan duel anaknya itu, ekspresi gembira mami tidak dapat disembunyikan. Perasaan ini sudah terlalu lama terkubur. Jatuh cinta seperti ini muncul saat 18 tahun silam. Tapi perasaan ini bangkit lagi. Ya, tidak dapat dipungkiri, mami memang jatuh cinta pada Mr.Robert.

***

Di rumah Gori saat itu terjadi kehebohan yang luar biasa. Suara riuh itu dipimpin oleh vocal Bokir yang parau menyoraki sohibnya yang bisa ke London gratis itu.

“Od, jangan lupa, nitip kaos Arsenal yang tulisan belakangnya Bokir Van Persie ya,” rengek Bokir.

“Yeee, sablon aja sendiri. Bisa rusak ntar alat sablonnya begitu ngecetak nama Bokir,” ledek Ruben.

Keempat sohib Oddie tidak henti-hentinya membahas topik kepergian Oddie ke London. Di saat yang keempat sohibnya asyik ngobrolin Oddie, Oddie sedang asyik chatting via BlackBerry Messenger dengan Luna. Dasar memang udik, Oddie jadi keceplosan sana-sini kalau dia akan hijrah ke London untuk beberapa pekan. Termasuk Luna, Oddie tidak luput membagikan kebahagiaan itu pada Luna.

Luna : O ya? Wah, selamat ya Od. Gue bisa bayangin lebar senyum lu udah seluas sirkuit Sepang di Malaysia. Pasti lu bahagia banget ya, hehehe. O ya, besok kan hari Minggu nih, gue ke rumah lu bentar bisa ga?

Oddie : Bisa banget, gue pasti bakal sibuk nyiapin barang-barang gue, hehehe. Jam berapa Lun?

Luna : Surprise deh, hehehe...

Oddie : Oke. C u tomorrow.

Luna : C u Od :D

Merasa diomongin tapi ngga menyimak, Oddie meleburkan diri ke dalam topik Bokir, Septian, Ruben, dan Gori. Kesoktahuan Oddie justru jadi bulan-bulanan Bokir dan yang lainnya. Malam itu mereka berempat bahagia dan bersenda gurau seolah-olah seperti merayakan kepergian Oddie esok pagi.

***

Sesuai dengan janjinya, hari itu Minggu malam sekitar pukul 19.00 WIB, Luna datang ke rumah Oddie. Dengan membawa sebuah kantong berbahan kardus daur ulang, Luna bersiap untuk masuk ke dalam rumah Oddie. Tapi, kenapa waktu itu perasaan Luna seperti tertahan sesuatu dan tidak sanggup untuk mengetuknya.
Luna memilih untuk basa-basi dulu di BBM sebelum bertemu dengan Oddie. Tepat di depan pintu rumah Oddie, Luna mencoba untuk menanyakan keberadaan Oddie.

Luna : Od, lagi di mana lu sekarang?

Oddie : Gue di kamar nih. Lu udah dateng?

Luna : Hmmmm...  udah sih, tapi kalau lu lagi repot selesaiin dulu aja kerjaan lu..

Oddie : Yaelah, justru itu, lu masuk, bantuin gue, hehe.. bentar ya, lu tunggu di depan, gue bukain jendela...

Luna : Yeyyy, lu kira gue maling masuknya lewat jendela...

Oddie : hahahaha.... bentar, lagi capcus ke TKP...

Entah kenapa saat itu perasaan Luna jadi aneh. Tidak biasanya Luna merasakan hal ini saat bertemu Oddie. Bahkan, selalu ada canda dan ledekan ketika mereka bertemu. Belum lama pikiran Luna berkecamuk, pintu terbuka dan Oddie sudah muncul di depan mata Luna.

“Ayo masuk, sendirian aja nih?” tanya Oddie membuka pembicaraan sambil diiringi Luna yang masuk ke ruang tamu Oddie.

“Iya, gue cuma bentar aja kok Od. Soalnya gue ada perlu ama nyokap,” terang Luna sambil menyodorkan bawaan yang sudah digenggamnya sedari datang tadi.

“Wow, apaan nih?” tanya Oddie sambil melongok ke dalam bungkusan itu dan mulai merogoh isinya.

Tetapi, belum sampai jemari Oddie menemukan benda kejutan itu, Luna melarang Oddie membuka di depannya langsung.

“Wait, wait! Bukanya nanti aja ya waktu gue balik. Soalnya gue ga mau ikutan jadi korban,” canda Luna.

“Buset!! Bom ato granat nih isinya??” sanggah Oddie membalas canda Luna.

Luna yang mendengar jawaban Oddie terkekeh dengan nada riuh rendah. Tidak lama mereka bercengkerama tentang persiapan kepergian Oddie ke London beberapa hari ke depan, Luna cepat-cepat ingin kembali ke rumahnya. Luna bergegas kembali ke mobilnya yang diparkir di depan gerbang rumah Oddie

Lambaian tangan Oddie dan Luna menutup perjumpaan mereka yang terbilang sangat singkat itu. Oddie tidak sedih lantaran durasi berkunjung Luna ke rumahnya yang singkat, tetapi lebih dari itu,  setelah Luna sudah hilang dari pandangan Oddie, Oddie berlari ke kamarnya  dengan terbirit-birit. Bukan karena ada tikus atau anjing yang mengincar betisnya yang berbulu, tapi rasa penasaran yang sudah di ubun-ubun kepala Oddie. Luna memberi kado? Belum pernah terbayang di pikiran Oddie.

Lambat namun pasti, Oddie mulai memberanikan diri untuk mengambil isi yang ada di dalam kantong kardus berwarna cokelat kayuitu. Dengan mendongakkan kepala, Oddie mulai mengeluarkan benda pemberian Luna.

bersambung....

Selasa, 18 Oktober 2011

Bosan Jadi Raja (Chapter 13)

Beruntung kalau manusia hidup dalam kelimpahan. Tampaknya Gori bisa mengaplikasikan lirik lagu /rif di bawah ini :
Andai 'ku jadi radja, mau apa tinggal minta
Tunjuk sini tunjuk sana dengan sedikit kata
Andai 'ku jadi radja, punya uang, punya harta
Dan yang pasti aku juga akan punya kuasa

Andai aku jadi radja, 'ku diangkat dielukan
Dikelilingi bawahan dan orang-orang suruhan
Nikmatnya jadi radja, dengan menjentikkan jari
Dan lambaian tangan maka terpuaskan nafsuku

Tapi 'ku bukan radja, 'ku hanya orang biasa
Yang selalu dijadikan alas kaki para sang radja
Aku hanya bisa menahan dan melihat, membayangkan
Dan memimpikan 'tuk menjadi seorang radja

Nikmatnya jadi radja, 'kan kubangun istana
Dan 'ku dikelilingi putri yang 'kan s'lalu menggoda

 
pic. by : Johansen Halim

Kalau /rif cuma bisa berandai-andai untuk bisa menjadi Radja, tidak dengan Gori yang bisa beneran menjadi seorang Radja. Setiap hari makan tidak pernah menemui nasi kucing apalagi nasi aking. Semua fasilitas yang dinikmati Gori sudah terlalu mewah untuk ukuran orang Indonesia. Kolam renang, gym pribadi, lapangan basket dan futsal, ruang ping-pong, ruang dance, halaman taman yang luas dengan seperangkat bunga-bunga cantik, semua dimiliki Gori. Itupun masih belum termasuk garasi yang bisa dimasuki 20 mobil.

Di tengah sendunya sore yang menebarkan berbagai jenis bentuk awan, Gori menatap hamparan kekayaannya dari jendela kamarnya. Matanya kosong seperti adegan Tao Ming Tse yang sedang dimarahin ibunya, Tao Ming Feng. Sayup-sayup di benak Gori masih terekam jelas kedua orang tuanya yang mengajaknya berdiskusi di ruang keluarga.

“Gor, kekayaan yang papa punya ini bukan segalanya. Buat papa kamu segalanya. Itu sebabnya papa ngga mau kamu hidup susah nantinya, jadi papa mohon lanjutkan apa yang papa miliki sekarang biar kamu dan anak-cucu-cicitmu yang menikmatinya,” pinta papa Gori.

Sejenak Gori mengamini permintaan papanya. Tapi kalau sampai harus meninggalkan tanah air untuk beberapa waktu yang cukup lama tampaknya berat buat Gori.

Alasan Gori menitikkan air mata pada tanggal 10 Oktober kemarin memang dikarenakan permintaan papanya agar Gori melanjutkan studinya di luar negeri setelah lulus nanti, bila perlu sampai program pasca sarjana.

Ketaatan Gori pada orang tuanya yang membuat posisinya seperti berhadapan dengan buah simalakama. Dilema melanda sukma. Keinginan orang tua dan menjaga persahabatan, dua hal yang teramat berarti bagi Gori.

***

“Lho?? Lu mau ke London abis lulus ini??” tanya Ruben dengan nada tinggi.

“Bukannya lu bilang ga akan ke mana-mana Gor?” timpal Oddie sambil mengharapkan jawaban positif dari Gori.

“Papa gue mau gue dapat pendidikan terbaik untuk mengelola usahanya. Toh, ini juga untuk kebaikan gue,” jelas Gori.

Kekhusyukan topik itu rusak lantaran muncul pertanyaan Bokir. Sambil menikmati keripik kentang Mas Ucup depan gang rumahnya, Bokir bertanya dengan polosnya.

“Gor, enak ga sih jadi orang kaya? Kata orang enak tapi lu kok jadi ada siksaan batin gitu?” tanya Bokir.
Gori menatap mata Bokir seolah-olah ingin membuktikan kejujuran dari setiap kata yang meluncur dari bibir dan lidahnya.

“Kir, gue mampu beli apapun. Mulai dari rumah lu sampe rumah cucunya tetangga lu dengan uang bulanan gue. Tapi yang perlu kalian catet, limpahan uang gue ngga akan bisa ngebeli persahabatan kita, gue ngga mau pisah dengan kalian selama bertahun-tahun,” ujar Gori.

Merasa tersinggung, Bokir melempar sekeping keripik itu tepat di jidat Gori. Belum sempat Bokir, Oddie, Septian, dan Ruben membalas omongan Gori, tiba-tiba BlackBerry Gori bergetar dengan kekuatan 6,8 SR. Dia menjawab panggilan di BlackBerry tipe Dakota yang dibelinya dengan mengumpulkan uang jajan selama 2 hari itu.

“Iya, Iya pa, Gori mau jalan pulang, tunggu bentar ya pa,” sahut Gori di telepon yang tampak kalau dia sedang bicara dengan papanya.
Setelah menutup pembicaraan dengan papanya, Gori buru-buru mengemasi barang-barangnya yang tergeletak di tepi lapangan basket.

“Buru-buru banget lu, disuruh apaan ama bokap?” tanya Septian penasaran.

“Bokap udah manggil guru native private ke rumah gue. Itung-itung kayak sekolah bahasa, jadi begitu lulus gue ngga kagok lagi ngomong bahasa asing. Sekarang gurunya udah nunggu di rumah gue. Oke, balik dulu ya guys,” pamit Gori dengan melambaikan tangan dan melemparkan senyum manis pada emapat sohibnya.

Dengan berlari kecil, Gori menuju mobilnya yang diparkir di depan gerbang sekolah. Oddie, Ruben, Bokir, dan Septian cuma bisa melihat kawannya itu bergegas menuruti perintah orang tuanya. Sebenarnya tampak wajah sedih yang disembunyikan oleh Gori tetapi tidak disinggung oleh sohibnya.

“Od, lu ga ada ide lagi?” tanya Bokir sambil menatapi kepergian Gori.

“Gue sama sekali ga berhak ikut campur kalo udah urusan beginian. Kita doain Gori aja biar dia bisa dapet  yang terbaik,” ujar Oddie bijak.

“Amiiiinnnn.....” sahut Bokir, Ruben, dan Septian dengan serentak.

***

Sambil menemani si Mami membuat adonan kue, Oddie di ruang keluarga barengan Mimi nonton tayangan infotainment favorit mami. Sesekali Mimi mencuri lihat apakah maminya masih menonton atau sedang berkonsentrasi membuat kue. Kalau-kalau maminya lengah sedikit, Mimi langsung memindahkan channelnya ke serial Korea favoritnya. Maklum, beberapa hari ini Mimi ketagihan banget nonton serial Korea yang dimainkan pria-pria berkulit tahu itu.

Oddie cuma ikut-ikutan meramaikan ruang tamu sambil mengutak-atik BlackBerry barunya. Matanya tertahan ketika membaca status Gori yang bertuliskan : Bosan Jadi Raja. Bagaikan gayung bersambut, dalam situasi yang bersamaan muncul pula iklan acara di televisi yang bertajuk Bosan Jadi Pegawai. Sebuah kontradiksi yang menarik buat Oddie. Pegawai ingin jadi Raja, Raja ingin jadi pegawai. Seberapa lelahnya Gori hingga dirinya enggan untuk menikmati kekuasaan layaknya lagu milik /rif? Dari status yang dimunculkan oleh Gori itu, tentu mengundang simpati dan empati Oddie. Percakapan melalui BlackBerry Messenger dibuka Oddie dengan basa-basi :

Oddie    : “Gor, hari ini koki rumah lu masak apaan?”
Gori       : “Hari ini sih masak sayur-sayuran. Soalnya keluarga gue lagi diet. Jadi banyak sayurnya.”
Oddie    : “Wow, enak banget tuh, gue juga suka banget sayur, boleh ya gue ke rumah lu?”

*terdengar teriakan mami Oddie di dapur sambil membuat adonan : “Oddie, cepet dimakan sayurnya, jangan suka pilih-pilih makanan!!! Masa cuma gorengannya aja yang dimakan??!!”

Gori       : “Oh, boleh dong, lu makan di sini aja ya, gue tunggu lu sekarang”
Oddie    : “Siipp, gue abisin makanan lu, hahahaha.... c u there brother”

“Hihihihi...Toh, meskipun banyak sayur, lauk di rumah Gori pasti banyak. Ayam Goreng, Gurami Goreng, pasti banyak macemnya,” pikir Oddie penuh kepicikan.

Setelah mengakhiri chat dengan Gori, Oddie bergegas meraih jaket, helm dan kunci motornya. Sempat berhenti beberapa detik karena melihat sebuah album yang tergeletak di atas meja belajar, Oddie memutuskan untuk meraih album itu dan membawa ke rumah Gori.

***

Meskipun sudah sering ke rumah Gori, selama perjalanan dari pagar depan hingga masuk ke ruang tamu Gori, Oddie tidak pernah berhenti berdecak kagum. Seperti orang udik yang baru masuk kota, sambil menenteng album Oddie berulang kali komat-kamit baca mantera agar kelak memiliki materi yang terhampar di rumah Gori ini.

Sampai di ruang tamu yang dihiasi oleh foto keluarga besar dan masa kecil Gori, Oddie disambut Gori bagaikan saudara kandungnya dari Kazhakstan. Maklum, Gori adalah anak tunggal di keluarganya, jadi sering kesepian meskipun banyak fasilitas yang dimilikinya. Melihat kehadiran Oddie, Gori sangat terhibur.

“Gue heran Gor, apa yang ngebuat lu jadi bosen?” tanya Oddie sambil berjalan menuju area kolam renang pribadi Gori.

“Sebenernya banyak hal yang ngebikin hidup gue monoton Od. Kadang gue ngerasa kekayaan ini seperti nyiksa gue. Lu belum pernah kan ngerasain les privat hampir setiap hari, bantuin bisnis papa yang ribet, dijodoh-jodohin ama anak-anaknya temen papa, ironisnya lagi gue jarang kumpul bareng keluarga gue,” cerita Gori panjang lebar.

Oddie hanya manggut-manggut sambil mengernyitkan dahi mirip Tiffatul Sembiring yang lagi mikir mecahin masalah “provider-provider nakal” di Indonesia. Tidak ingin menghambat aliran curhat Gori, Oddie diam seolah-olah mengisyaratkan Gori untuk bercerita lebih lagi.

“Selama ada lu Od, Bokir, Ruben, dan Septian, gue jadi ngerasa kalau lu pada bukan sekedar sahabat, tapi udah jadi saudara gue. Itu yang kadang jadi pikiran gue saat ini. Waktu gue menemukan kebahagiaan di dalam kalian, kebahagiaan itu harus siap-siap pergi lagi karena gue harus memenuhi keinginan orang tua gue,” keluh Gori.

Melihat Oddie yang sedari tadi menenteng sebuah album berukuran A4, Gori jadi penasaran dan langsung menyambar album itu. Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, Gori membalikkan halaman depan dan mulai menjelajahi isi album itu. Gori terkejut melihat foto-foto Oddie yang terlihat akrab dengan maminya, adiknya, Mr.Robert, Bokir, Ruben, Septian, dan Gori sendiri.

Sesekali Gori tertawa lepas saat melihat foto Bokir yang sedang dikejar anjing Pitbull milik Mathilda, anggota Geng Cuwit-Cuwit. Dibaliknya lagi, muncul pemandangan foto mereka berlima yang sedang berpelukan di camp persahabatan. Sempat terdiam dan senyum kecil tersungging di bibir Gori. Dibaliknya halaman berikut, tampak foto Mimi yang digendong Mr.Robert dan Oddie yang sedang menggendong maminya. Bukan ikut melihat album itu, Oddie justru malah melihat ekspresi wajah sohibnya itu.

“Seru banget ya pengalaman-pengalaman kita. Tapi keluarga juga berarti banget buat gue. Sebenerya hidup kita sama kok kayak album ini, ngga cuma diisi foto persahabatan kita. Ada keluarga, ada temen-temen yang lain. Mungkin kelak ada foto pacar gue,” canda Oddie dengan menaikkan alisnya yang tebal itu.

Gori tidak menatap mata Oddie. Tangannnya sibuk membolak-balikkan tiap lembar dalam album berwarna merah maroon itu. Sesekali matanya melirik ke arah Oddie yang masih melanjutkan dakwahnya.

“Yang jelas, letakkan mereka masing-masing di posisi yang tepat. Saat ini lu coba fokus ke kehidupan keluarga lu. Gue liat papa mama lu sayang banget ama lu. Coba lu liat semua fasilitas yang lu miliki di rumah ini. Bukannya itu bukti cinta mereka sama lu Gor?” tanya Oddie yang tidak mengharapkan jawaban Gori.

“Untuk saat ini gue pengen banget memilih jalan gue sendiri. Kita kan udah bukan anak kecil lagi Od,” kata Gori membela diri sambil menatap foto keluarga Oddie yang sedang merayakan ulang tahun Oddie ke 17.

Oddie berdiri dan mendekatkan tubuhnya ke kolam renang milik Gori. Setelah melipat bagian bawah celana panjangnya sampai berhenti di lututnya, Oddie melanjutkan nasihatnya sembari membenamkan kakinya ke dalam kolam.

“Ouww...Bener banget. Gue setuju ama opini lu Gor kalau kita bukan anak kecil lagi. Nah, karena kita udah bukan anak kecil lagi, sekarang kita kudu belajar menatap masa depan yang leeeebih jauh lagi. Itu namanya visi. Jangan takut persahabatan kita putus. Justru tanggal 10 Oktober itu jadi alarm buat kita untuk terus saling mengingat persahabatan kita,” ujar Oddie sambil menatap langit sore yang cerah itu.

Mendengar ucapan Oddie, entah hati Gori seperti cerah kembali seperti langit saat itu. Rona muka yang terpancar di wajah Gori berbeda sebelum Oddie mengutarakan hal itu. Gori menutup album milik Oddie dan meletakkan di atas kursi pantai yang berdiri gagah di samping kolam renang. Perlahan-lahan Gori mengikuti tingkah Oddie yang melakukan ritual sebelum mencelupkan kedua kakinya di dalam kolam. Dia mendekati Oddie dan mengutarakan responnya dari ucapan Oddie.

“Yep. Setiap perkataan lu ngga akan gue lupain Od. Kalau memang jalan hidup gue seperti ini gue harus syukuri. Thank u so much Od. You’re my best friend forever,” tutur Gori sambil melemparkan senyumnya pada Oddie.

“Udah kayak Paris Hilton-Nicole Richie aja kita pake istilah BFF, hahaha...” canda Oddie menutup percakapan mereka.

Sambil mereka bercanda dan bermain-main air, tidak Oddie sadari seluruh pembantu Gori sudah memersiapkan hidangan makan malam yang penuh dengan aneka sayur mayur untuk Oddie dan Gori. Sampai tiba waktunya Oddie akan menikmati hidangan makan malam, Oddie terjejut karena hidangan di meja makan Gori semuanya bernuansa Ever Green. Gori melarang Oddie pulang sebelum makan hidangan yang disediakan.

“GUA GA MAO SAYUR SEMUA!! BUSET!! PARE, JENGKOL, SAWI, TERONG, lu ngerjain gue Gor??” teriak Oddie ditambah pelototannya di meja makan sambil ditarik Gori agar tidak beranjak.

“Lho kan lu yang bilang bakal abisin semua. Lu kudu ngehargain hidangan raja!” paksa Gori sambil tetap menarik Oddie.

“Buset, gue ga nyangka lu raja hutan. Lepasin gue Gor!! Lepasiiiiiinnn... Gue ngga mau makan Jengkoooolll, Pareeee....Huhuhuhu... Terrrooonngggg, eh, Tolooooongggg....” rengek Oddie.

bersambung...

Kamis, 13 Oktober 2011

10 Oktober (Chapter 12)

pic. by : Johansen Halim
Peninggalan Mr.Robert untuk Oddie dan Mimi sebelum kembali ke Inggris benar-benar menakjubkan. Begitu menerima BlackBerry, Oddie dan Mimi jadi makin sibuk dengan mainan barunya itu. Bahkan, Oddie yang biasanya ngga terlalu ngikutin arus informasi di luar kini jadi orang paling update di SMA Pahlawan Bangsa. Mulai berita Steve Job sampai Ayu Ting-Ting Oddie paham.

 Siang itu saat pulang sekolah, Oddie, Ruben, Bokir, Gori, dan Septian nongkrong lagi di tepi lapangan basket sekolah. Cuma sekarang sedikit berbeda, biasanya Oddie selalu balapan ngomong dengan Bokir, kini Bokir menang telak. Oddie cuma ikutan senyum tawar waktu Bokir menceritakan kisah kucingnya yang ekornya kesangkut di antena rumahnya.

“Emm...emang tadi gue cerita apaan Od kok lu ikutan ketiwi gitu?” sindir Bokir yang sedari tadi memperhatikan tingkah laku Oddie.

“Ya itu, kucing lu kan?” sahut Oddie masih sibuk dengan BlackBerrynya.

“Kenapa kucingnya Bokir?” tanya Septian dengan nada pura-pura tidak tahu.

“Eeeeee...Kena antraks kali,” jawab Oddie sambil mesem-mesem merasa bersalah karena ngga menyimak cerita Bokir.

“BlackBerry lu tuh kena panu. Taruh bentar napa Od, lagi asik kumpul masa lu cuma nimbrung mesem. Gori aja ga begitu-begitu banget ama BlackBerrynya,” sanggah Bokir yang kemudian dipatuhin Oddie.

Bokir, Septian dan Ruben jadi sedikit jengah dengan kebiasaan baru Oddie. Tidak hanya kejadian tadi yang membuat sohib-sohib Oddie kesal. Oddie hampir tidak bisa lepas dari BlackBerry barunya itu. Alasan Oddie selalu mengatakan sedang kontak dengan Mr.Robert. Bisa dibilang sejak memegang BlackBerry barunya itu sense of humor Oddie jadi berkurang. Malah lebih mirip pusat info. Di mana-mana update info, update status.

Sebelumnya memang Gori sudah mengatakan pada Oddie kalau BlackBerry bisa jadi ancaman kalau tidak digunakan dengan bijak. Ancaman malas belajar, malas berinteraksi dengan orang, sampai malas makan lantaran uang jajannya dipakai buat beli pulsa.

Satu yang pasti, sejak kehadiran BlackBerry di tangan Oddie, ketiga sahabatnya yang cuma memakai handphone ala kadarnya itu seperti tidak lagi menjadi perhatian Oddie. Sampai akhirnya Bokir, Ruben, Septian memutuskan untuk tidak menghiraukan Oddie sampai benar-benar sadar. Gori yang punya BlackBerry ditugaskan untuk menjadi pelarian Oddie karena jangan sampai Oddie minum Baygon setelah “ditinggal” ketiga sohibnya itu.

“Pokoknya kalau sampai dia masih kagak hirauin kita, kebangetan itu Oddie ama BlackBerry,” seloroh Bokir mendapat persetujuan dari Ruben, Gori, dan Septian.

***

Ternyata memang benar apa yang diucapkan Bokir, Oddie bahkan jadi lebih lemot dari BlackBerrynya kalau diajak ngomong. Kalau sohibnya ngga sampai mengulangi omongannya dua kali rasanya belum cukup buat Oddie. Sampai akhirnya rencana itu dijalankan, Bokir, Septian, dan Ruben mencari celah untuk mengambil kesempatan “ngambek”nya.

Pulang sekolah waktunya untuk berkumpul di tepi lapangan basket, Bokir membahas topik yang seru. Kali ini tentang masa kecil Bokir yang pernah ikut lomba minum air putih sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan kotak pensil Hello Kitty. Oddie seperti biasa, sibuk dengan dunianya. Sontak, keempat sohibnya dari yang heboh ha ha hi hi mendadak diam dan tidak ada yang berbicara.

“Kir, Kir, tadi lu cerita apa? Kok mendadak silent? Menangin kotak pensil kero-kero pi ya?” tanya Oddie sambil masih mencat-mencet BlackBerrynya.

“Tauk ah, tanya aja ama san-san wa-wa, pulang yuk, kayaknya udah pada punya kesibukan sendiri-sendiri kan?” ujar Bokir yang kemudian beranjak dari tempat duduknya.

Bokir, Septian, Ruben dan Gori tanpa pamit tanpa permisi langsung mengemasi barang-barangnya lalu meninggalkan Oddie.

“Lho Kir, Sep, Ben, Gor, pada ke mana? Sorry, ikutan dong,” teriak Oddie dengan berlari ke arah keempat sohibnya itu.

Bingung juga si Oddie karena keempat sohibnya berpencar ke tempat masing-masing. Mau ikutan juga tinggal pilih mau ikut siapa. Oddie dibuat bingung. Mau ngikutin Bokir ke rumahnya, ato Gori ke gym, Septian ke tempat latihan ngeband, atau Ruben ke sasana pelatihan teater.

Yang jelas saat itu Oddie jadi merasa bersalah karena tidak menghiraukan sohib-sohibnya. Keempat sohibnya tidak pernah bertindak seperti itu sebelumnya. Nasi sudah menjadi bubur sum-sum. Oddie harus berbuat sesuatu supaya Bokir, Gori, Septian, dan Ruben tidak kesel lagi dengan tabiat baru Oddie itu.

***

Panorama Wajah, Sasana Pelatihan Teather, pk 14.00 WIB

Bangunan itu tidak terlalu besar. Mungkin lebarnya hanya berkisar 5 meter. Cat temboknya tampak sedikit mengelupas dengan atap yang sudah mulai menghitam karena digilir hujan dan panas. Hanya sedikit sedap dipandang saat mulai masuk ke pekarangannya karena banyak ditemui bunga-bunga yang indah. Meskipun terlihat kuno, bangunan itu tampak kokoh.

Oddie mulai menyusuri halaman pekarangan itu dan akhirnya sampai di bibir pintu. Suara Ruben terdengar jelas meskipun Oddie belum masuk ke dalam aula teather milik ayahnya itu. Dialog Ruben yang melankolis dan mendayu-dayu itu membuat Oddie tidak enak untuk langsung masuk ke dalam. Hanya separuh kepala Oddie yang berani untuk melihat situasi di dalam. Begitu takjub Oddie melihat kawannya yang satu itu, berdialog dengan 9 orang siswa, seolah-olah dia adalah sutradaranya.

Setelah beberapa saat melongokkan kepalanya, Oddie perlahan-lahan mulai masuk dan menempati salah satu bangku penonton teather paling belakang. Menunggu Ruben cukup lama, sesekali Oddie ingin banget keluarin BlackBerry dari kantongnya. Sontak, dia teringat kejadian tadi dan memasukkan kembali BlackBerrynya.
Saat mulai rehat, Oddie beranjak dari kursi dan melambaikan tangan ke arah Ruben. Ruben menghampiri dengan menenteng sebuah naskah yang lebih tebal dari modul bimbingan belajar matematika mereka. Entah kenapa, Oddie jadi salah tingkah dengan sahabatnya itu. Mungkin karena kesalahannya itu. Dengan sedikit tergagap, Oddie basa-basi.

“Hai Ben, hehehe. Keren tadi. Lu ngga coba casting Harry Potter 8? Hehehe,” canda Oddie berusaha mencairkan suasana.

“Udah tau salah lu di mana?” ujar Ruben dengan nada yang cukup ketus.

“Iya, gue tau. Maapin ya. Gue ga maksud cuekin kalian. Maap ye ben. Gue emang salah. Punya barang baru bagusan dikit udah cuekin kalian,” ujar Oddie pasrah.

Dalam benak Oddie, Ruben adalah orang paling sabar yang pernah dia temui. Jarang sekali Ruben mengutarakan kekesalannya. Tetapi hari itu Ruben seperti tidak mendengar omongan Oddie. Justru Ruben kembali ke arah panggung dan memanggil seluruh kawannya untuk berlatih kembali.

“Guys, kumpul yuk! Sekarang kita mulai dari scene.........”

Suara Ruben terdengar sayup-sayup di telinga Oddie. Dia tidak habis pikir bahwa Ruben akan bersikap seperti itu. Ingin rasanya Oddie update status dengan emote sedih, nangis, guling-guling, tapi Oddie ingat bagaimana BlackBerry itu membuat dia dan sohibnya menjadi renggang. BlackBerry itu disakukan lagi.
Oddie berjalan layu bak game Plant VS Zombie menjauhi kursi penonton dan mulai mendekati entrance gedung teather. Ingin rasanya dia memakan otaknya sendiri yang tidak berpikir jernih sebelumnya.

“Mungkin Septian bisa nenangin gue, moga-moga dia ngga ikutan marah,” gumam Oddie dalam hati sambil menyalakan motornya.

***

Studio Melodika, pk 15.30 WIB

“Buset, lagu apa ini?? Studio Band ato depan gedung DPR nih, berisik banget,” gumam Oddie saat mulai memasuki ruang depan studio yang disewa Septian dan teman-teman bandnya.

Bayangkan, belum masuk ke studio rekaman, dari luar Oddie sudah bisa mendengar gebukan drum, petikan gitar, betotan bass, pencetan keyboard, dan teriakan suara vokalisnya, yaitu Septian sendiri. Lagu rock yang sedang dilatih oleh Septian dan bandnya adalah lagu yang akan dipakai mereka untuk lomba band indie tingkat Nasional.

“Gila, kalo nyanyinya model gitu, mungkin ga ya Septian bisa nenangin gue?” gumam Oddie sambil ngedengerin Septian nyanyi bagian bridge lagu Linkin Park, Numb.

Pelan-pelan Oddie mulai masuk ke jalan menuju studio yang berhadapan dengan ruangan mirip aquarium raksasa. Kontan Septian yang berada di dalam kaget melihat Oddie yang tiba-tiba muncul dari luar. Jelas terlihat dari kaca bening raksasa itu. Entah sengaja atau improvisasi, teriakan Septian jadi makin nge-grunk dan powerfull setelah melihat kehadiran Oddie.

Setelah tenggorokan Septian benar-benar Numb, Septian menyambut Oddie dengan suara parau tanpa mengeluarkan seluruh tubuhnya di luar studio.

“Ngapain ke sini? Lu mau main sasando?” tutur Septian ketus.

“Tadi gue dari tempat Ruben. Sekarang gue bole ganggu lu bentar kan? Hehehe..  Sep, sorry ya belakangan ini gue jadi jauh dari kalian, lu masih mau kan sohiban ama gue? Gue tau kok salah gue di mana,” tanya Oddie polos.

“Gitu doang? Gue kira lu nawarin kontrak rekaman buat Band gue. Gue latihan dulu ya,” jawab Septian dengan nada santai dan kembali memegang gitarnya.
Oddie benar-benar pengen masuk ke studio itu dan berteriak sekencang-kencangnya. Ternyata Septian juga berpikiran sama kalau Oddie sudah berubah sejak BlackBerry itu menghampiri kehidupan Oddie.

Sesekali Oddie pengen lihat BlackBerrynya, tetapi jadi tidak bersemangat karena teringat teman-temannya yang perlahan-lahan mulai tereksodus. Berjalan dengan gontai keluar dari Studio Melodika, akhirnya Oddie melanjutkan ke rumah sohib utamanya, Bokir. Mungkin Bokir bisa berpikir lebih jernih.

***

Rumah Bokir, Gang Senggol, pk 16.45 WIB

Sudah seperti rumah sendiri, Oddie tanpa malu langsung masuk menuju ruangan Bokir. Tepat berada di depan pintu kamar Bokir, Oddie mengetuk sambil memanggil dengan mesra.

“Bokir Di Caprio, boleh masuk ngga?” panggil Oddie sambil mengetuk pintu dengan seirama.

Tidak mendengar jawaban setelah beberapa saat, Oddie memilih untuk duduk di ruang tamu Bokir. Oddie mengira bahwa Bokir di dalam lagi ngambek dan ngga mau membukakan pintunya buat Oddie. Hampir setengah jam lebih Oddie menunggu Bokir keluar dari kamarnya, sampai beberapa kali Oddie mengetuk pintu Bokir dan berceloteh merayu.

“Kir, maafin gue. Gue janji ga bakal ngacuhin kalian lagi. Gue tau BlackBerry bisa mengalihkan perhatian gue dan bikin pertemanan kita jadi ngga asik. Dengan kondisi sekarang gue sadar kalau BlackBerry itu bukan segalanya buat gue. Persahabtan kita yang terpenting di hidup gue. Jadi tolong Kir maafin gue. Kirr, lu ngambek apa tidur sih Kir? Masa kudu gue dobrak kayak di pilem-pilem??” oceh Oddie yang sudah mulai tidak sabar itu.

Hanya berselang beberapa detik, Emak Bokir muncul dari kamarnya dan terkejut dengan kehadiran Oddie.

“Ya ampun nak Oddie, Bokirnya lagi ngga ada di rumah. Lagi keluar ama dek Gori, katanya sih mau diajakin main bilyard di rumah nak Gori, tumben kagak ikut?” ujar Emak Bokir.

“Ooo...gitu ya mak. Udah dari tadi ya mak? Ya udah, makasih ya mak. Oddie pamit dulu,” ujar Oddie dengan lemas sambil ngacir dari tempatnya berdiri.

Sekali lagi, Oddie berjalan tanpa semangat. Semua sohibnya menghindari dia, hanya tinggal Gori yang belum dikunjunginya. Tetapi melihat reaksi ketiga temannya itu, Oddie jadi optimis kalau tindakan Gori kurang lebih akan sama dengan ketiga sohibnya itu.

Karena hari sudah mulai menjelang petang, Oddie kembali ke rumahnya dengan menggunakan motor butut kesayangannya itu. Tanpa terasa bahwa seharian itu Oddie tidak memegang BlackBerrynya. Tidak tahu apa isi pesan yang tertinggal selama dia menghampiri sohib-sohibnya.

Setelah Oddie menyalakan mesin dan mulai menjauhi rumah Bokir, sesosok bibir tebal dan pipi tembem muncul dari dalam jendela kamar Bokir. Ya, sang empunya bagian tubuh itu adalah Bokir yang sedari tadi berada di dalam kamar itu.

***

Oddie tiba di rumahnya dan tanpa berhenti di meja makan dia langsung masuk ke kamarnya. Tanpa mengganti seragam dan melepas atributnya, Oddie merebahkan tubuhnya. Lampu merah berkedip di sudut kanan atas BlackBerry Oddie. Dengan sedikit lunglai Oddie membuka pesan yang masuk di BlackBerry Messengernya. Berkirim pesan dengan Mr.Robert tampak sedikit melegakan Oddie.

Entah Mr.Robert itu ternyata lulusan Cenayang University atau Ki joko Bodo International College, tiba-tiba di akhir chatting, Mr.Robert memberikan pesan sesuai dengan apa yang dialami Oddie sekarang.

Mr.Robert

Oddie, aku mau kamu jangan terlalu sering bermain BlackBerry. Ingat belajar, ingat mami, ingat Mimi, dan ingat sahabat-sahabat kamu. Don’t waste your time with your own world, especially with your BlackBerry. Okay? God Bless You.  

Oddie
Yes, Sir! I promise :)

Singkat, padat, namun pesan itu seperti teguran keras bagi Oddie. Setelah itu Oddie memutuskan untuk beranjak dari kamarnya dan segera menyusul ke rumah Gori untuk menemui Bokir dan Gori.

***

Rumah Gori, pk 19.00 WIB

Rumah Gori tidak terlalu ramai seperti biasanya. Namun, ada sesuatu yang berbeda ketika Oddie mulai masuk ke dalam rumah Gori. Banyak makanan yang tersedia di meja makan Gori. Oddie jadi salah tingkah karena takut di rumah Gori akan ada acara. Oddie menunggu di ruang tamu dan mencoba untuk menghubungi Gori. Meskipun telah dibaca isi pesan Oddie, tetapi tidak ada balasan sedikitpun dari Gori.

Tiba-tiba keempat sohib Oddie muncul dengan menuruni tangga berbentuk spiral milik Gori. Mereka berempat tertawa bersama dan menghampiri Oddie. Dengan membawa 5 gelas berisi Cola, mereka menyeret Oddie ke meja makan dan berkumpul di meja makan.

“Perlu kita ingat dan kita rayakan. Hari ini kita tetapkan sebagai hari resminya persahabatan kita untuk selama-lamanya,” ujar Septian.

“Kelak sampai kita berpisah untuk mengejar cita-cita kita masing-masing, kita tidak akan melupakan hari ini, tanggal 10 Oktober adalah hari persahabatan kita,” imbuh Ruben.

“Sorry ya Od, kami ga bermaksud ngejebak lu. Jujur kami sempet kecewa dengan sikap lu sejak punya BlackBerry. Tapi lu sportif dan kami bangga punya sahabat kayak lu,” tutur Bokir.

“Terlepas dari kasus BlackBerry ini, gue juga minta maaf buat kesalahan yang mungkin pernah gue buat ke kalian. Kalian yang terbaik dan gue janji akan selalu ngejaga persahabatan ini,” ujar Oddie sambil merangkul bahu Bokir dan Ruben.

Mereka tertawa bersama. Bergembira dan bercanda seperti biasanya sambil menyantap hidangan yang disediakan Gori. Dengan diiringi permainan gitar Septian, mereka menyanyikan bersama lagu "Ingatlah Hari Ini" milik Project Pop di kolam renang milik Gori. Namun, di balik tawa mereka, Gori seperti menyembunyikan sesuatu. Tidak sadar ada air mata yang keluar dari mata Gori di tengah-tengah canda tawa para sahabatnya.
 
bersambung...

PS : Cerita ini didedikasikan untuk semua pengguna BlackBerry, termasuk saya sendiri untuk lebih mawas diri dengan membangun komunikasi interpersonal yang lebih baik antar sesama manusia ^^

Minggu, 09 Oktober 2011

Pengganti Papi (Chapter 10)

pic. by : Johansen Halim

Kalau memang alarm handphone Oddie yang tidak mampu membangunkan kemalasannya, hanya ada satu alat yang mampu membuat Oddie terbangun. Apa lagi kalau bukan mixer mami tercinta. Bunyi mixer yang kurang lebih hampir sama dengan suara bor bangunan itu selalu bisa mengusik tidur Oddie dari tidurnya.

Entah bisa dikatakan bersyukur atau tidak, belakangan ini Mami Oddie sering sekali bangun pagi-pagi buta untuk membuat jajanan dan kue basah. Sudah hampir satu minggu ini pesenan Mami Oddie laris manis. Tentu Oddie ikut senang karena maminya jadi royal banget untuk mengeluarkan kocek dari dompetnya. Uang jajan Oddie dan Mimipun ikutan naik. Tapi di sisi lain, Oddie seperti ”dipaksa” untuk bangun lebih awal karena suara mixer itu.

Pagi itu Oddie yang sudah mulai terbiasa bangun pagi karena “alarm” itu menghampiri maminya.

“Pagi mam, pesenan lagi?” tanya Oddie sambil mengucek-ucek matanya yang masih setengah lengket itu.

Maminya yang masih terlalu sibuk cuma menjawab singkat agar konsentrasinya saat meramu kue tetap terjaga.

“Iya, jam 8 mesti mami anter lagi ke PT. Agung Jaya,” jawab maminya sambil mengangkat dandang berisi roti kukus itu.

Masih merasa setengah sadar, Oddie minum beberapa gelas air putih sambil menemani maminya yang sibuk dengan perangkat pembuat kuenya. Oddie cuma melihat maminya mondar-mandir bak setrikaan panas tanpa berbicara sepatah katapun. Melihat anaknya hanya membuang-buang waktu untuk lamunannya, mami minta Oddie segera beranjak dari kegiatan tak bertujuan itu.

“Kamu cepet gih mandi, bentar lagi mami yang mau mandi, musti anterin ini kue. Mimi udah mandi, lagi nungguin kamu di kamarnya. Mami udah tuangin air panas di bak mandi kamu,” jelas mami panjang lebar sambil masih sibuk dengan kue-kuenya.

Dasar Oddie yang iseng dan cinta banget sama maminya, dia berlari menyambar handuk dan mencium pipi maminya.

“Thank u mi, Oddie sayang banget ama mami,” ucap Oddie setelah mencium pipi maminya.

Maminya tersenyum dan memukul  lengan Oddie dengan penuh canda. Melihat Oddie masuk ke kamar mandi sambil bersiul fals, maminya terdiam sejenak dan mengingat-ingat betapa keluarganya bahagia ketika papi Oddie masih ada.

Sebelum kecelakaan pesawat itu menimpa papi Oddie, mereka sekeluarga begitu bahagia menghadapi hari-hari dalam rumah itu. Meskipun kini Oddie dan Mimi sudah melupakan trauma itu dan mulai belajar ikhlas, sesekali masih terbesit di pikiran mami Oddie tentang almarhum suaminya.

Alm.Gunarto Laksmono, papi Oddie yang meninggal karena mengalami kecelakaan pesawat. Kejadiannya sepuluh tahun silam ketika Oddie dan Mimi masih anak-anak. Setiap pagi bibir papi Oddie selalu mendarat di kening tiga anggota keluarganya. Namun, sejak tiada, tampaknya reinkarnasi kebiasaan papi Oddie itu menurun pada Oddie.

“Kak Oddieee!! Mimi telat nih ntar! Buruaaannn!! Mimi matiin nih lampunya...” teriak Mimi mengancam Oddie yang memecah lamunan maminya. Melihat tingkah kedua anaknya itu mami Oddie tidak lagi merasa sendiri.

Saat mulai bersiap-siap berangkat, Oddie dan Mimi sedikit merasa heran melihat maminya yang lagi dandan bak finalis Putri Indonesia. Melihat maminya yang berdandan terlalu wah untuk ukuran pagi hari, sedikit menggelitik bibir Oddie untuk nyeletuk.

“Mi, ada yang kondangan pagi-pagi? Kok pake sanggul segala?” tanya Oddie sebelum mendapati motor yang sadelnya mulai dipukul-pukul Mimi.

“Eeehhh, mami cuma mau anterin pesenan aja kok. Udah, itu adik kamu udah hampir telat, cepet berangkat,” nasihat mami Oddie sembari mencium pipi anak sulungnya itu.

Oddie merasa ada sesuatu yang berbeda dari si mami. Tidak biasanya mami pakai sanggul waktu mengirim pesanan. Boro-boro sanggul, kalau lagi ekstrim kadang ngirim pesanannya juga pake daster ditambah rol rambut yang masih melintang. Benar-benar apa adanya. Tapi sekarang mami tampil seperti ada apa-apanya.

***

Selama perjalanan di motor, omelan Mimi bak alunan backsound di tengah-tengah lamunan Oddie. Mimi Carey yang ngomelnya sudah mencapai 6 oktaf nampaknya tidak mampu menarik perhatian Oddie. Justru Oddie mengalihkan nyanyian Mimi menjadi resepsionis hotel yang penuh dengan informasi.

“Mi, tadi liat mami pake sanggul kan? Dandan rapi, cantiiikkk banget kayak mau kondangan. Pesenannya juga belakangan kenceng banget. Ga curiga Mi?” tanya Oddie memecah konsentrasi omelan Mimi.

“Sempet sih tadi liat. Tapi jangan salah kak, itu mah udah kesekian kalinya. Beberapa kali aku nanya ke Mami pesenannya ke mana, jawabannya PT. Agung Jayaaaaa mulu,” tutur Mimi.

“Terus-terus? Mami ngomong apa lagi?” tanya Oddie makin antusias.

“Hmmm... Ya ngga ngomong apa-apa lagi sih. Cuma sempet nyeletuk bilang kalo bossnya baik banget. Denger-denger waktu tadi nungguin Kak Oddie mandi, mami bilang mau keluar sebentar nanti siang, soalnya musti anterin lunch ke......” ujar Mimi.

“PT Agung Jaya!” celetuk Oddie memutus omongan Mimi.

“Ya gitu deh kak. Ehhh... stop stop stop stop, turun di sini aja bang,” seru Mimi kayak lagi berhentiin angkot.

Sampai tiba di sekolah Mimi, Oddie menurunkan adik tercintanya tepat di depan pintu gerbang sekolah yang sudah ditutup satu. Tandanya Mimi hampir terlambat beberapa menit lagi. Tanpa mengucapkan terima kasih, Mimi turun dari motor Oddie dan berlari masuk ke dalam gedung sekolah. Baru setengah tubuh masuk ke dalam gerbang, Oddie berteriak memanggil si adik.

“Mi! Nanti kakak jemput ya. Jangan pulang dulu. Jam 12 siang kakak jemput di sini nanti,” ujar Oddie sambil melemparkan senyum termanis ke adiknya. Mimi cuma mengiyakan ajakan kakaknya itu dengan menunjukkan jempolnya tanda setuju.

***

Jam 12.00 WIB tepat Oddie menunggu Mimi di seberang gerbang pintu sekolah Mimi. Memang hari itu Mimi dan Oddie pulang lebih cepat karena hari Sabtu seperti biasa kegiatan belajar hanya setengah hari. Oddie sudah membawakan oleh-oleh buat Mimi untuk nyemil di jalan. Sebungkus gorengan bakso yang dibungkus dalam plastik dan minuman sari kedelai yang dingin untuk pelepas dahaga. Dua sesajen itu cukup membuat Mimi tersenyum puas.

Selama di perjalanan, Mimi sibuk dengan gorengan bakso dan minuman sari delenya. Sampai-sampai dia tidak sadar kalau tujuan Oddie tidak ke rumah, tetapi ke sebuah perusahaan dengan gedung bertingkat puluhan lantai. Kontan Mimi keherananan dan bertanya pada Oddie apa tujuan mereka ke tempat yang tidak mereka kenal itu.

“Ini perusahaan tempat mami sering ngirim belakangan, PT Agung Jaya. Kita nungguin di sini aja biar ga kelihatan orang,” kata Oddie.

“Kok Kak Oddie yakin di sini? Dari mas Ujang ya?” tanya Mimi heran.

“Ya sapa lagi, yang sering nganterin ke sini naik Taxi kan mas Ujang, tetangga sebelah,” jawab Oddie sembari sibuk memerhatikan ruang dalam kantor dari jauh.

Ya, Oddie dan Mimi memata-matai sang Mami yang belakangan bertindak cukup aneh semenjak sering mengirimkan pesanan ke PT Agung Jaya. Sudah mendekati jam makan siang, pk 12.45 WIB Oddie dan Mimi jadi sering melototin entrance gedung itu. Jangan sampai kelewatan melihat si Mami masuk ke dalam gedung itu.

Jam sudah menunjukkan pk 13.15 WIB, tapi mami tak kunjung muncul dari pandangan mereka. Sampai akhirnya muncul sesosok pria tinggi blasteran, tinggi, putih, tampan, atletis, berambut hitam, tapi tampak sedikit berumur. Sekilas Oddie tidak terlalu terpikat oleh kemunculan pria itu, dan memang tidak seharusnya Oddie terpikat.

Berbeda dengan Mimi yang tadinya duduk di jok motor, jadi duduk selonjoran di sebelah knalpot motor Oddie setelah melihat pria blasteran itu.

“Kak Oddie, apa Mimi sudah ada di Nirwana? Malaikat yang barusan ganteng bangeeeetttt.....” tutur Mimi dengan tatapan kosong.

Oddie yang coba ingin menyadarkan justru terkena ledekan si adik.

“Yaaaahhhh... balik lagi deh ke bumi,” sindir Mimi setelah melihat wajah Oddie.

Oddie yang mendengar ledekan adiknya tidak bisa menyiksa di depan umum, hanya sekedar mengacak-acak rambut Mimi. Tidak lama, gurauan dua bersaudara itu berakhir setelah melihat pria blasteran itu menggandeng seorang wanita yang familiar di mata mereka. Sangat familiar. Bahkan, teramat sangat familiar.

“Kak Oddie!! Itu Mami!!” teriak Mimi.


bersambung...

Kamis, 06 Oktober 2011

Cuma Mau Maimunah (Chapter 9)

pic. by : Johansen Halim
Pagi-pagi buta Bokir sudah dibuat resah dengan perdebatan sang emak. Memang bukan pagi itu Bokir debat dengan emaknya. Malam kemarin percekcokan ala Bibir Yang Ditukar membahana di sebuah gubuk tak bertulang itu.

“Emak.....ngertiin Bokir sekali ini aja. Sekaliii ajaaaa...” isak Bokir diikuti gaya pemenang Piala Oscar tahun 1967. Emak Bokir tidak kalah heboh. Tampaknya Natalie Portman harus siap-siap angkat kaki dari dunia Hollywood jika melihat aksi Emak yang menentang habis sang anak tercinta.

“Lu kagak ngerti ya Kir, Emak lu udah kasih apapun buat lu, sampe raga Emak lu udah kagak ada bentuk lu masih minta yang berharga,” tentang Emak kepada Bokir.

“Sudahlah Emak, Bokir lelah, lesu, lunglai, letih.....laper juga,” kata Bokir sembari beranjak dari ruang tamu, tempat mereka beradu argumen.

“Bokir, kembali! Bokir! Lu kurang darah!” teriak Emak Bokir sambil ngelempar Sangobion.

Drama yang bergulat di antara mereka tak pelak membuat Bokir stres dan penuh ratap. Akhirnya pagi itu Bokir hanya bisa melihat motor butut kesayangannya yang sudah rusak total itu. Ya, ternyata perdebatan yang terjadi kemarin malam adalah permintaan Bokir akan sebuah motor baru kepada si Emak. Emak yang memang hanya punya penghasilan pas-pasan tidak bisa mengabulkan permintaan Bokir yang super mendadak.

Mau tidak mau Bokir harus rela untuk naik angkot menuju sekolah tercinta. Dasar memang sahabat sejati, Oddie sudah berulang kali menawarkan bantuan kepada Bokir. Oddie rela banget untuk menjemput sohibnya yang merana itu.

“Apa sih yang ga buat lu Kir. Lu kan lagi kesulitan, masa gue tinggal diem, gue jemput ya?” rayu Oddie.

“Kagak usah, biar Emak gue tau seberapa menderitanya gue. Thank u ye sob tawarannya, meskipun gue tau kalo motor lu juga mogokan, ujung-ujungnya gue yang ngedorong,” sindir Bokir. Oddie yang mendengar penolakan sohibnya itu cuma bisa cekikian karena ketahuan kebiasaannya.

Sekali agkot tetap angkot. Bokir ingin membuktikan pada si Emak kalau anaknya terlambat sekolah dan terlambat pulang karena harus naik angkot. Pagi-pagi dengan muka kusut Bokir menjinjing tas laptopnya. Tas laptop, bukan tas berisi laptop, di dalam tas laptop Bokir tidak akan menemui laptop, tetapi hanya ada buku-buku pelajaran dan buku tulis beserta alat tulisnya.

Tidak lama setelah Bokir berdiri di depan gang rumahnya, sebuah angkot berwarna hijau melon mendekat. Persis mobil angkot itu berhenti di sebelah Bokir, kemudian sang sopir melongokkan kepalanya untuk menawarkan tumpangan pada Bokir.

“Kalo siswa 500 perak kan bang?” tawar Bokir. Mendengar Bokir mengatakan 500 perak, sang sopir melotot dan menunjukkan sebuah tatto di lengannya yang tertutup kaos bonusan dari Semen Gresik.

“Lu masih punya cita-cita kan??” tantang sang sopir. Bokir yang liat tatto kapak Wiro Sableng itu langsung bergidik dan ngga berani tawar-menawar lagi.

“Ma...Maa..Masih-masih... masih bang. Pengen jadi Polwan. Eh, Polri bang,” ujar Bokir terbata-bata. Dasar Bokir yang cuma berani ngelawan Emaknya, ketemu preman sopir langsung evolusi jadi Aziz Gagap.

Bokir segera naik ke bangku belakang angkot dan duduk di sisi pintu luar. Hampir penuh sesak, hanya tersisa untuk 2 sampai 3 orang lagi. Berbagai aroma mulai dari ikan kerapu sampai terasi Betawi bercampur aduk di dalam angkot itu. Padahal hari masih sekitar pk 06.15 WIB, tetapi banyak orang yang sudah mulai sibuk dengan kegiatannya. Di dalam angkot itu mayoritas diisi para manula seumuran Emak Bokir. Hanya satu yang masih berumur sekitar 35 tahun. Itupun pria dengan kumis melintang dengan badan yang kurus kering.

Entah mengapa ketika Bokir duduk dan merenung di belakang, Bokir teringat perjuangan Emaknya yang setiap hari berdagang di pasar tradisional. Menjual berbagai sayur mayur dan ikan di pasar demi membiayai sang anak. Bokir mulai menitikkan air mata. Ya, karena kelilipan, bukan karena rasa haru.

Tiba-tiba suasana melankolis itu berubah total saat angkot mulai berhenti di sebuah daerah perumahan yang cukup mentereng. Seorang gadis polos memakai baju khas kembang desa memberhentikan angkot berisi belasan orang tersebut. Alangkah terkejutnya Bokir saat melihat gadis berambut hitam pekat dan beralis tebal itu. Kulitnya berwarna kuning langsat dan perangainya mengingatkan orang pada Kate Middleton, istri Pangeran Negeri Monarki, Inggris.

Bak Pangeran William, Bokir turun dari angkot memersilakan gadis itu masuk ke dalam.

“Mari-mari neng, di dalem masih ada satu,” lagak Bokir yang mulai kehilangan perangai sebagai pangeran, malah mirip kenek angkot.

Mendapat pelayanan yang memuaskan dari kenek dadakan itu, gadis manis itu melemparkan senyuman termanisnya. Kebetulan, Bokir duduk dekat dengan gadis tersebut. Setelah beebrapa menit merasa garing dan tidak ada pembicaraan, Bokir mulai memberanikan diri membuka omongan.

“Saya Bokir, mbaknya?” tanya Bokir sembari menyodorkan tangannya. Senyum najong terpancar dari mukanya yang benar-benar mengharapkan balasan gadis itu.

“Maimunah,” jawabnya singkat. Bokir makin penasaran.

Dilihat dari penampilannya sudah bisa ditebak kalau Maimunah adalah pembantu rumah tangga. Tapi Bokir tidak melihat status Maimunah. Kalau ada kata jatuh cinta pada pandangan pertama, Bokir mengalami itu. Bokir yang sudah tahu kalau angkotnya lewat di depan sekolahnya, pura-pura tidak melihat dan melewatkannya. Sablengnya, malah Bokir melanjutkan percakapan dengan Maimunah.

“Mau ke mana Mai? Eh, ngga apa-apa nih manggil Mai langsung, jadi sok akrab  nih?” seloroh Bokir. Melihat kesalahtingkahan pria badung itu, Maimunah cuma mesem-mesem.

“Ga apa-apa, panggil Mai aja, udah keseringan dipanggil mbak kalo di rumah juragan,” jawab Maimunah yang disambut muka sumringah Bokir.

Dalam hati Bokir sedang menjerit kencang saking senangnya. Bokir berpikir kalau memang standar Luna ketinggian, setidaknya Maimunah dapat digapai Bokir. Selain itu Bokir punya kans lebih besar mendapatkan Maimunah karena semenjak tadi Maimunah menatap dengan ekspresi gemas.

“Tiap hari ke pasar jam segini?” lanjut Bokir penasaran.

“Ya iya dong mas. Kalau ngga, mau makan apa juragan. Mana juragan rewel banget, sukanya gonta-ganti menu mulai Indonesian Food sampe Italian Food,” jawab Mai panjang lebar. Mendengar jawaban Mai, Bokir cuma manggut-manggut kegirangan.

“Wah, udah cantik, telaten, bakatnya koki internasional lagi. Gusti, Gusti, rahmat-Mu di balik musibah motor butut memang luar biasa,” jerit Bokir dalam hati. Belum selesai menikmati rahmat yang Kuasa, angkot diberhentikan oleh Mai. Bak peramal, Mai turun sambil menyadarkan Bokir dari kekhilafannya.

“Waktunya sekolah ya sekolah dong bang Bokir. Udah lewat jauh dari sini tuh sekolahnya. Saya pamit dulu ya, daaaahhh.....” sindir Mai melemparkan senyuman sambil melambaikan tangan ke Bokir. Bokir membalas lambaian Mai yang mulai dijauhi oleh angkot.

Penyesalan selalu datang di akhir. Bokir ternyata lupa kalau hari ini ada tes Geografi. Dengan penuh sesal dan takut, Bokir minta ke sopir angkot untuk kembali ke sekolahnya.

“Bang, bi...bi..bisa balik dikit ga bang ke sekolah yang...,” belum tuntas Bokir menyelesaikan permintaannya, sang sopir mulai menaikkan dua lengan bajunya.

“Beneran ga punya cita-cita lu ya?” kata sang sopir dengan nada geram.

Alhasil Bokir berhenti di tempat yang berada beberapa kilo dari sekolahnya .

***

Dari ruang tamu Bokir, mendadak Emak Bokir membawa kabar gembira. Sambil berjalan dengan gaya khas ondel-ondel Betawi, Emak Bokir memanggil Bokir dengan suara yang parau.

“Kiiirrr, sini lu. Emak di mari mau kasih lu sesuatu,” teriak Emak Bokir. Oddie yang sedang nemenin Bokir di kamarnya ikutan mendorong Bokir untuk segera ke ruang tamu.

“Tuh, Emak lu mau kasih sesuatu. Udah kayak Syahrini aja Emak lu,” ledek Oddie. Sambil Bokir berdiri dan mengusap kepala Oddie lantaran Emaknya disama-samain ama Syahrini, Bokir berjalan lunglai menuju ruang tamu.

“Apaan mak?” tanya Bokir singkat.

“Yaelah, yang manis dikit napa ama Emak lu. Sono gih lu pesen motor kesenengan lu. Paman lu di Banyuwangi ngirimin amplop jutaan buat lu beli motor,” jelas Emak sambil menyodorkan amplop berisi kisaran 12 juta Rupiah. Mendadak Bokir bergaya ala Mario Teguh, mengeluarkan kata-kata bijak yang tidak disangka dan tidak dinyana si Emak.

“Surga di telapak kaki ibu. Pemberontakan dan pemerasan akan materi orang tua adalah perbuatan paling keji di dunia. Maka dari itu, Emak boleh simpen, ambil, pakai uang itu. Bokir cukup naik angkot,” ujar Bokir. Tiba-tiba Emak Bokir ingin mengucapkan kata-kata namun Bokir keburu menutup bibir Emaknya dengan jari telunjuknya bak adegan Cinta dan Rangga.

“Jangan ucapkan apa-apa Emak, percaya pada Bokir,” tukas Bokir.
Melihat kelakuan anaknya itu, Emak Bokir girang bukan kepalang. Bokir dipeluk habis-habisan dan pipinya tidak luput dari kecupan Emaknya. Oddie yang mengintip dari kamar dan sempat mendengar cerita Bokir tentang Maimunah cuma bisa geleng-geleng dan tertawa kecil.

“Emang gila lu Kir kalo udah jatuh cinta,” ujar Oddie dari dalam kamar Bokir.

***

Selama beberapa hari Bokir benar-benar mengubah gaya hidupnya bak Pegawai Negeri Sipil yang baru dapat Tunjangan Hari Raya. Semangat bergelora, bangun pagi, dan mendapati angkot di jam yang sama setiap harinya. Entah bisa dikatakan jodoh atau tidak, hampir setiap hari Bokir dan Maimunah bertemu di angkot.

Pembicaraan makin akrab, bahkan mereka sudah sempat bertukar nomor handphone. Meskipun pulsa Bokir tidak pernah penuh, tetapi demi Maimunah, Bokir rela beli pulsa yang mahalan dikit. Setiap di rumah Bokir sering senyum-senyum sendiri. Bahkan, dia jadi semakin baik dengan Emaknya. Tak pelak, perbuatan anomali Bokir itu mengundang keheranan si Emak. Sore hari waktu sedang bersantai berdua di ruang keluarga, Emak Bokir menanyakan perubahan ekstrim yang dialami putra satu-satunya itu.

“Kir, lu kagak napa-napa kan? Sejak motor lu rungsep terus sering naik angkot, lu jadi bahagia banget. Emang lu dapet apaan dari angkot?” tanya Emak sambil dipijitin Bokir.

“Bokir? Emak kali yang dapet. Dapet calon mantu,” ujar Bokir kepedean. Emaknya yang mendengar kata-kata Bokir kontan menendang Bokir yang lagi berada tepat di depan kaki si Emak.

“Serius lu Kir???” tanya Emak kegirangan tanpa sadar anaknya sudah terjatuh dari tempat duduk rotan tersebut.

“Waduh mak, pencak silat 20 tahun lalu kagak usah dikeluarin napa? Sakit bener. Yaaa... belum sampe jadian sih mak, cuma dianya ama Bokir udah sering jalan bareng gitu,” jelas Bokir.

Melihat anaknya yang sudah mulai di ambang laku, Emak Bokir mulai sering menanyakan Mai. Bahkan, Emak ngebet banget minta Bokir bawa Mai ke rumahnya. Meskipun susah, akhirnya Mai mau diajak Bokir untuk main-main ke rumahnya.

“Ya deh bang Bokir, sekali-sekali. Kayaknya Emak bang Bokir baik,” jawab Mai saat ditanya Bokir di angkot pagi itu.

“Nanti abang antar-jemput ya pake sepeda (pinjeman) abang?” tawar Bokir.

“Ngga usah bang, nanti Mai dateng aja langsung ke rumah bang Bokir. Sampe ketemu nanti malem ya bang,” pamit Mai memutus pembicaraan saat Bokir turun persis di depan sekolahnya.

***

Jam 18.00 WIB Bokir sudah berdandan ala Elvis Presley. Emak Bokir tidak kalah heboh, bak mengikuti kontes kecantikan se-kecamatan, Emak bokir berdandan total. Berbagai makanan dan jajan tradisional sudah disiapkan oleh Emak dan Bokir. Setelah semua setting “lamaran” dipersiapkan, tiba-tiba dari luar terdengar suara salam khas wanita muslimah teladan.

“Assalamualaikum....” suara lembut nan syahdu itu membius telinga Emak Bokir.

“Tuh, tuh, calon bini lu dateng,” kata Emak sambil mendorong Bokir untuk keluar menyambut Mai.

Tidak lama setelah pintu dibuka, Bokir dikejutkan oleh penampilan yang di luar dugaannya. Maimunah begitu tampak mempesona dengan dandanannya yang sangat sederhana. Tidak banyak riasan dalam tubuhnya. Kebersahajaan dan keanggunan yang membalut fisiknya malam itu.

Bokir jadi salah tingkah sendiri dan tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana lantaran banyak yang ingin diungkapkan saat itu. Mai yang cantik, pergi dengan siapa, naik apa, boleh pulang sampai jam berapa, bercampur aduk dalam benak Bokir.

Tidak pakai lama, Bokir mengajak Mai masuk ke ruang makan yang sudah diisi oleh Emak Bokir. Sama halnya dengan Bokir, Emak begitu terpesona melihat kecantikan Mai. Tanpa basa-basi terlebih dahulu dengan Mai, Emak menarik Bokir ke kamar Emak.

“Lu kagak boleh main dukun ya!! Emak kan udah bilang sejak lu SD, kagak ada istilah cinta ditolak dukun bertindak, Emak kecewa ama lu,” bentak Emak Bokir sambil berbisik di telinga Bokir.

“Mak! Ini halal! Udah ah, malu-maluin aja tingkah kita, buruan kita keluar, kesian Mai sendirian,” bantah Bokir sambil menyeret Emaknya keluar.

Melihat tingkah anak dan ibu itu Mai tertawa kecil dan mulai mengakrabkan diri. Tidak butuh waktu lama untuk bergaul dengan Mai. Emak Bokir langsung match dengan topik Mai. Memang kehidupan Mai begitu sederhana dan soleha. Bisa dikatakan dirinya adalah calon menantu yang komplet. Di sela-sela pembicaraan dan topik yang asik, tiba-tiba Emak Bokir menginterogasi Mai.

“Menurut dek Mai, Bokir itu laki yang gimana sih?” tanya Emak yang mendapat bonus pelototan mata anaknya.

“Hmmm...Siapa yang kelak menjadi istri bang Bokir bakal jadi wanita paling ceria di dunia ini,” jawab Mai bijak. Mendengar jawaban itu, Emak Bokir bak mendapat durian runtuh.

“Naaahhhh, kalau gitu......”

*GLODAKKKKKK*

belum selesai Emak Bokir bicara, Bokir menjatuhkan dirinya dari kursi untuk memutus pembicaraan Emak.

“Ya ampun Kirr, ati-ati dikit napa, malu kan dilihat Mai,” tegur Emak yang menyalahkan “kecerobohan” Bokir.

Setelah beberapa jam bercanda bersama di ruang makan dan ruang keluarga, Mai harus segera pamit pulang. Emak Bokir seperti tidak ingin melepas kepergian calon menantu idamannya itu. Berkali-kali Emak Bokir selalu minta Mai sering-sering main ke rumah Bokir. Saat mengantar Mai ke luar pintu terdapat sesosok pria bertubuh tegap yang menunggu menggunakan motor.

“Terima kasih jamuannya. Semoga persahabatan kita ga akan pernah putus ya bang Bokir. Emak terima kasih banyak. Kasihan tunangan saya udah nunggu lama. Terima kasih, Wa’alaikumsalam...” tutur Mai sambil menghampiri tunangannya.

Bokir dan Emaknya tersenyum kecut sambil melambaikan tangan ke Maimunah dan tunangannya. Setelah Mai dan tunangannya pergi menjauh, Bokir saling menatap dengan Emaknya. Hening beberapa detik. Emaknya masuk ke dalam rumah diikuti oleh rengekan Bokir.

“EMAAAKKKKK, BELIIIIINNN MOTORRRRR........”

“KAGAKKKK!!”

“EMAAAKKK!!!”

“UANGNYA UDAH EMAK PAKE BUAT MAEN SAHAM!!”

“MAAAAKKKK!!!”


bersambung...